Kebakaran hebat melanda kawasan Pasar Kanjengan, Kota Semarang, pada Rabu (29/4) malam hingga Kamis (30/4) dini hari, menaksir kerugian materiil mencapai Rp2 miliar hingga Rp2,5 miliar. Ratusan tempat usaha hangus, dan proses pemadaman sempat terkendala oleh tidak berfungsinya fasilitas hidran di lokasi kejadian.
Berdasarkan pemantauan di lokasi pada Kamis siang, api utama telah berhasil dipadamkan. Namun, puluhan petugas pemadam kebakaran masih disiagakan dengan 10 mobil damkar untuk melakukan proses pendinginan guna mengantisipasi munculnya titik api baru dari puing-puing bangunan.
Kendala Pemadaman dan Kerugian Masif
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Sih Rianung, mengungkapkan pihaknya mengerahkan sedikitnya 60 personel untuk menjinakkan api di pasar yang terletak di pusat kota tersebut. Ia mengakui adanya kendala teknis yang menghambat suplai air saat pemadaman berlangsung.
“Proses pemadaman sempat terganjal karena sejumlah hidran tidak berfungsi. Tidak ada suplai listrik karena panel dicopot dan tidak ada baterainya. Akibatnya, kami hanya mengandalkan suplai air dari PDAM dan BPBD Kota Semarang,” jelas Sih Rianung.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva, menyatakan timnya sedang melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap dampak kebakaran. Data sementara menunjukkan kerusakan masif pada bangunan fisik pasar.
- Kios dan Lapak Terbakar: Lebih dari 200 unit.
- Ruko Terbakar: 20 unit.
- Estimasi Kerugian Bangunan: Rp2 miliar-Rp2,5 miliar.
- Jumlah Pedagang Terdampak: Sekitar 480 orang.
Aniceto menambahkan bahwa angka kerugian tersebut baru mencakup nilai bangunan fisik yang mayoritas merupakan swadaya pedagang berbahan kayu. “Hitungan itu belum termasuk harta benda dan barang dagangan milik 480 pedagang. Kami masih melakukan penghitungan total dan fokus menangani nasib para pedagang pascakebakaran,” imbuhnya.
Penyelidikan Penyebab Kebakaran
Kapolrestabes Semarang, Kombes Heri Wahyudi, menegaskan bahwa pihaknya menerjunkan tim Reskrim dan Tim Labfor Polda Jawa Tengah untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Penyelidikan dilakukan guna mengungkap penyebab pasti munculnya api yang memicu spekulasi di masyarakat.
“Kami masih melakukan penyelidikan mendalam, memeriksa lokasi, dan meminta keterangan sejumlah saksi untuk mengungkap penyebab kebakaran ini,” kata Heri Wahyudi.
Menurut keterangan saksi mata, Anton, api pertama kali terlihat dari tumpukan peti dan keranjang di los kios buah. Api dengan cepat merambat ke bangunan semi permanen lainnya, meskipun pedagang sempat mencoba memadamkan secara manual.
Di sisi lain, dugaan korsleting listrik juga masih simpang siur. Giyarti, salah seorang pedagang yang bermalam di pasar, menyebutkan bahwa aliran listrik di kawasan tersebut sebenarnya sudah padam sejak pukul 21.00 WIB sebelum kebakaran terjadi. “Saya sudah bersiap tidur saat tiba-tiba terdengar teriakan kebakaran,” tuturnya sedih.
