LABUAN BAJO – Kelangkaan gas elpiji nonsubsidi telah melanda Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, selama hampir tiga pekan terakhir. Kondisi ini menyebabkan warga dan pelaku usaha kecil kesulitan mendapatkan pasokan, sementara harga di pasaran melonjak drastis.

Tabung elpiji ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram dilaporkan sangat sulit ditemukan. Jika pun tersedia, harganya jauh di atas normal, membebani masyarakat dan mengancam keberlangsungan usaha.

Ichal Detrexs, seorang pelaku usaha kuliner di Labuan Bajo, mengungkapkan kesulitannya. “Kadang ada, tapi harganya sudah tidak masuk akal. Kalau tidak beli, usaha berhenti,” ujarnya, menggambarkan dilema yang dihadapi banyak pengusaha kecil.

Menanggapi situasi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dikabarkan tengah mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi lokal dan memenuhi kebutuhan rumah tangga warga.

Di sisi lain, pihak Pertamina membantah adanya gangguan pasokan dari hulu. Sales Branch Manager wilayah Nusa Tenggara Timur, Ahad, menegaskan tidak ada pembatasan kuota elpiji nonsubsidi maupun pengurangan pengiriman ke Labuan Bajo. “Tidak ada pengurangan pengiriman,” tegas Ahad saat dikonfirmasi pada Selasa, 28 April 2026.

Ahad menjelaskan bahwa distribusi elpiji di Manggarai Barat didukung oleh dua agen resmi dengan enam outlet yang tersebar di beberapa lokasi strategis, termasuk Toko Aneka Jaya, Kios Rejeki Putrari, Kios Opa Kaper, Kios Serba Jaya, Kios Eben, dan Citra Sarijaya Migas di SPBU Dermaga Pink.

Namun, pernyataan Pertamina ini dinilai tidak sejalan dengan realitas di lapangan. Sejumlah warga Labuan Bajo masih mengeluhkan kesulitan mendapatkan elpiji, bahkan harus antre panjang tanpa kepastian. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya gangguan distribusi di tingkat agen hingga pangkalan.

Hingga Rabu, 06 Mei 2026, kelangkaan elpiji di Labuan Bajo masih terus berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasokan secara penuh.