Kegagalan tim beregu putra Indonesia di ajang Thomas Cup 2026 memicu sorotan tajam dari berbagai pihak, terutama terkait sistem pembinaan atlet bulu tangkis nasional. Pengamat bulu tangkis Tanah Air, Erly Bahtiar, menilai akar masalah kegagalan Fajar Alfian dan kolega bersumber dari proses pembinaan yang belum berjalan optimal.

Sistem Perekrutan Atlet Disorot

Menurut Erly, kondisi di lapangan saat ini belum memberikan banyak keuntungan bagi pebulu tangkis muda untuk mendapatkan kesempatan menembus Pelatnas Cipayung. Ia bahkan menyebut sejumlah bibit muda potensial lebih memilih bergabung dengan klub besar ketimbang menjalani proses pembinaan dari awal hingga menjadi pemain nasional.

“Masalah perekrutan atlet harus dikaji ulang lagi. Saat ini banyak pemain muda yang berada di klub kecil sering direkrut ke tim-tim besar,” ujar Erly saat dihubungi JPNN.com pada Rabu (29/4).

Erly menambahkan, kondisi tersebut menciptakan persaingan yang tidak merata. “Hal tersebut membuat persaingan antarpemain justru terkonsentrasi di klub tertentu,” jelasnya.

Harapan Pembenahan Pembinaan Akar Rumput

Jebolan Tabloid Bola itu berharap klub-klub besar mulai fokus mencetak atlet binaan sendiri. Langkah ini diharapkan dapat melahirkan pemain berkualitas yang siap memperkuat Pelatnas Cipayung.

Dengan demikian, pembinaan di level akar rumput dapat makin berkembang dan menciptakan persaingan yang lebih merata di antara para atlet, yang pada akhirnya akan memperkuat fondasi bulu tangkis Indonesia.