Tim Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur (Karantina Jatim) berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 16 ekor burung Maleo dan 6 ekor burung Rangkong. Satwa liar dilindungi tersebut diamankan di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Minggu (3/5/2026) setelah didatangkan dari Makassar, Sulawesi Selatan.
Puluhan satwa langka itu dilalulintaskan menuju Jawa Timur menggunakan armada kapal laut KM Dharma Kencana 7. Penyelundupan terendus lantaran pengiriman tidak disertai Sertifikat Kesehatan Hewan Karantina maupun kelengkapan dokumen Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SAT-DN).
Kepala Karantina Jatim, Sokhib, menjelaskan bahwa pengungkapan kasus ini bermula dari kejelian tim Penegakan Hukum (Gakkum) dan Tim Satuan Pelayanan Karantina Pelabuhan Tanjung Perak. Petugas di lapangan menaruh kecurigaan terhadap pergerakan sebuah mobil yang baru saja turun dari kapal.
“Tim kami akhirnya berhasil mengamankan sopir dan kendaraan yang membawa media pembawa tersebut. Selanjutnya, langsung dilakukan penyidikan awal dan permintaan keterangan dari sopir kendaraan di lokasi kejadian,” terang Sokhib.
Guna mengusut tuntas jaringan penyelundup satwa endemik ini, Tim Gakkum Karantina Jatim telah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur. Kasus ini akan ditangani menggunakan skema penyidikan multidoor yang melibatkan jajaran Satuan Reserse Kriminal Khusus (Satreskrimsus) Polda Jatim.
“Penegakan hukum terhadap kasus penyelundupan ini akan diproses secara tegas sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Langkah ini merupakan upaya nyata untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku, mencegah terulangnya kejadian serupa, sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati kita yang hampir punah,” tegas Sokhib.
Tindakan penyelamatan ini sangat krusial bagi pelestarian ekosistem. Burung Maleo (Macrocephalon maleo) merupakan burung endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Sulawesi. Satwa ini memiliki karakteristik dan kebiasaan berkembang biak yang sangat unik.
Indukan Maleo memilih untuk mengubur telur-telurnya di dalam pasir pantai yang panas atau di area tanah vulkanik untuk menetaskan telurnya secara alami, alih-alih mengerami secara langsung. Hal ini membuat populasi mereka sangat rentan terhadap perburuan liar dan kerusakan habitat.
