Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, memastikan ketersediaan transportasi umum berupa Bus Trans Donggala selama periode libur Idul Fitri 1447 Hijriah. Langkah ini diambil untuk mempermudah akses masyarakat dan wisatawan menuju berbagai destinasi wisata di wilayah tersebut, khususnya di Kecamatan Banawa dan Banawa Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Donggala, Muhammad, menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan setempat. “Kami sudah sampaikan hal ini ke Dinas Perhubungan setempat terkait penyediaan empat armada bus trans Donggala dan angkutan kota lainnya,” ujar Muhammad saat dihubungi awak media di Banawa pada Selasa, 17 Maret 2026.

Selama libur lebaran, Bus Trans Donggala akan tetap melayani rute dari Kota Palu, melalui Wisma Donggala, menuju Kabupaten Donggala di Kecamatan Banawa Tengah. Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan empat unit angkutan kota dari Terminal Banawa. Angkutan ini dapat dimanfaatkan wisatawan untuk menuju sejumlah tempat wisata populer seperti Pantai Tanjung Karang, Boneoge, Pusat Laut, dan Bonebula.

“Harapannya dengan adanya transportasi umum ini dapat mempermudah mobilitas wisatawan selama libur lebaran untuk mengunjungi objek-objek wisata di Kabupaten Donggala,” kata Muhammad. Ia menambahkan, tarif yang diberlakukan untuk Bus Trans Donggala adalah Rp10 ribu per orang, berlaku untuk rute dari Kota Palu ke Kabupaten Donggala maupun sebaliknya.

Sementara itu, untuk angkutan kota yang beroperasi dari terminal penumpang ke tempat-tempat wisata, tarif yang ditetapkan adalah Rp5 ribu per orang. “Untuk angkutan kota yang melayani dari terminal penumpang ke tempat wisata dengan tarif Rp5 ribu per orang,” sebut Muhammad.

Muhammad juga mengajak seluruh pengelola tempat wisata di Kabupaten Donggala untuk segera melengkapi fasilitas umum. Fasilitas yang dimaksud meliputi toilet, mushola, tempat bilas, tempat sampah, dan area parkir yang memadai. Ia menekankan pentingnya aspek keamanan dan kenyamanan pengunjung.

“Perlu adanya layanan kesehatan di masing-masing tempat wisata untuk penanganan pertama bagi pengunjung yang membutuhkan bantuan medis,” tegas Muhammad, mengakhiri pernyataannya.