Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE), Kaja Kallas, pada Minggu (15/2/2026) menyatakan bahwa blok tersebut belum siap untuk memberikan tanggal pasti bagi Ukraina untuk bergabung. Pernyataan ini disampaikan di tengah diskusi mengenai kemungkinan perjanjian damai dan masa depan keanggotaan Ukraina di UE.
Berbicara dalam Konferensi Keamanan Munich, Kallas menegaskan bahwa negara-negara anggota UE masih belum mencapai konsensus terkait penetapan jadwal spesifik. “Saya kira negara-negara anggota belum siap memberikan tanggal yang pasti,” ujar Kallas, menanggapi pertanyaan mengenai tanggal aksesi Ukraina dalam konteks perjanjian damai.
Meskipun demikian, Kallas menekankan pentingnya langkah cepat untuk mengintegrasikan Ukraina ke dalam struktur Eropa. Ia menambahkan, “Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi saya pikir prioritasnya, adalah perlunya kita untuk segera bergerak dan menunjukkan bahwa Ukraina adalah bagian dari Eropa.”
Ukraina dan Moldova telah diberikan status kandidat oleh Uni Eropa pada Juni 2022, diikuti dengan penetapan sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum pembicaraan aksesi dapat dimulai. Pada Juni 2025, konferensi antar pemerintah Uni Eropa-Ukraina dan Uni Eropa-Moldova pertama secara resmi dilaksanakan di Luksemburg, menandai dimulainya negosiasi aksesi.
Proses memperoleh status kandidat dan memulai negosiasi tidak secara otomatis menjamin keanggotaan penuh di Uni Eropa. Sejarah menunjukkan bahwa beberapa negara telah menjadi kandidat selama bertahun-tahun tanpa kepastian tanggal aksesi. Turki, misalnya, telah menjadi kandidat sejak 1999, Makedonia Utara sejak 2005, Montenegro sejak 2010, dan Serbia sejak 2012.
Kroasia menjadi negara terakhir yang bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 2013, setelah melalui proses aksesi yang memakan waktu sekitar 10 tahun. Pernyataan Kallas ini mengindikasikan bahwa jalan Ukraina menuju keanggotaan penuh di UE masih panjang dan memerlukan upaya signifikan dari kedua belah pihak.
