Kaisar Bauksit Nusantara (Kabantara) Grup, di bawah kepemimpinan HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, menyiapkan investasi jumbo senilai Rp50 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun smelter bauksit di pesisir Sumatera, dengan target ambisius mendominasi pasar bauksit nasional pada 17 Agustus 2026.

Langkah berani ini diambil di tengah euforia hilirisasi mineral yang selama ini didominasi nikel dan batu bara. Gus Lilur melihat potensi bauksit sebagai “harta karun” yang belum banyak digarap pemain lokal, menjadikannya momentum emas bagi pengusaha nasional.

Investasi ini mendapat kepastian regulasi dari Kementerian ESDM. Pemerintah secara terbuka mengistimewakan penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) bagi korporasi yang berkomitmen membangun infrastruktur pengolahan atau smelter.

“Pemerintah memberikan kepastian bagi kami yang berani masuk ke hilirisasi. Ini bukan cuma soal selembar kertas izin, melainkan jaminan bahwa pasokan bahan baku untuk industri tetap terjaga,” ungkap Gus Lilur pada Rabu (31/12/2025).

Strategi Lokasi dan Optimisme Pasar

Kabantara Grup telah merangkul mitra strategis untuk mengamankan lahan seluas 800 hektare di tepi laut Sumatera. Pemilihan lokasi ini dinilai krusial karena dapat memangkas biaya logistik pengiriman hasil olahan melalui jalur laut, sehingga meningkatkan efisiensi operasional.

Meskipun satu unit smelter bauksit membutuhkan ongkos pembangunan yang tidak sedikit, mencapai Rp50 triliun, Gus Lilur tetap optimistis. Ia meyakini nilai tambah ekonomi bagi negara akan jauh lebih tinggi dibandingkan terus-menerus menjual bahan mentah.

“Kita saksikan smelter nikel muncul di mana-mana, begitu juga pemain batu bara yang sesak. Namun, pengusaha bauksit di Indonesia bisa dihitung jari. Minimnya persaingan ini adalah momentum emas bagi pengusaha nasional untuk muncul ke permukaan,” jelas sosok asal Situbondo tersebut.

Visi Keadilan Sosial dan Kemerdekaan Ekonomi

Ambisi Gus Lilur untuk mendominasi peta bauksit nasional pada 17 Agustus 2026 bukan tanpa makna. Pemilihan tanggal kemerdekaan itu merupakan simbol perlawanan terhadap ketergantungan asing di sektor sumber daya alam Indonesia.

Baginya, operasional tambang bukan sekadar urusan mencari margin keuntungan, melainkan manifestasi dari keadilan sosial. Ia ingin memastikan kekayaan bumi Indonesia benar-benar dinikmati oleh rakyat sendiri, bukan sekadar terbang ke luar negeri dalam wujud material mentah.

“Keadilan sosial itu harus terasa di akar rumput. Rakyat berhak menikmati kemakmuran dari alamnya sendiri. Kabantara Grup ingin menjadi bukti nyata bahwa putra daerah punya taji untuk mengelola aset strategis secara mandiri dan profesional,” tutup Gus Lilur.