Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu, 20 Mei 2026, menyatakan keprihatinan mendalam atas nasib dan keselamatan para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF). Pernyataan ini menyusul penyergapan seluruh kapal dalam konvoi kemanusiaan ke Jalur Gaza oleh pasukan Zionis Israel.

Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menegaskan pentingnya perlindungan bagi para aktivis. “Kami sangat prihatin atas keselamatan semua orang di kapal. Mereka harus dilindungi, dan mereka harus dipastikan tetap aman,” kata Dujarric dalam konferensi pers di Hamilton, Kanada.

Dujarric juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional. “Hukum internasional di laut lepas harus dipatuhi,” ucapnya. Saat ditanya apakah Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres akan menegaskan insiden tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional, Dujarric menyatakan perlu peninjauan lebih lanjut.

“Tetapi hal tersebut tampaknya tidak dilakukan dengan mengindahkan hukum internasional secara penuh,” tambah Dujarric, mengindikasikan bahwa tindakan Israel kemungkinan tidak sepenuhnya sesuai dengan ketentuan hukum internasional.

PBB turut menyerukan kembali kepada rezim Zionis Israel agar tidak lagi membatasi bantuan kemanusiaan yang memasuki Jalur Gaza. Dujarric menggarisbawahi bahwa hambatan yang ada menghalangi penyaluran bantuan esensial.

“Ingatlah bahwa cara terbaik menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza adalah melalui jalur resmi, dan supaya semakin banyak bantuan yang masuk, Israel harus menyingkirkan berbagai rintangan dan batasan yang ada, yang tak memungkinkan kami membawa masuk bantuan yang diperlukan,” ujar Dujarric.

Lebih lanjut, Juru Bicara Sekjen PBB itu menyoroti kelangkaan kritis suku cadang instalasi generator daya dan stasiun pompa di Jalur Gaza. Ia juga menyebutkan masalah menumpuknya sampah padat serta kurangnya material yang diperlukan untuk membangun kembali tempat tinggal berskala besar di wilayah yang masih dikepung tersebut.