Kabar pilu datang dari Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya sendiri di sebuah pohon cengkeh dekat rumahnya pada Kamis (29/1) siang.

Peristiwa tragis ini berawal dari sebuah permintaan sederhana yang tak dapat dipenuhi. Menurut keterangan Bernardus H Tage, Camat Jerebuu, sehari sebelum kepergiannya, YBS sempat meminta kepada ibunya untuk dibelikan buku dan pensil.

“Namun ibunya tidak punya uang. Ayahnya sudah meninggal saat YBS ada di kandungan,” kata Tage kepada media, Selasa (3/2/2026). Kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas membuat sang ibu tak mampu memenuhi permintaan polos anak semata wayangnya itu.

YBS diketahui tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun, sementara ibunya tinggal terpisah di kampung sebelah. Pada pagi hari Kamis yang nahas itu, sejumlah warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah, padahal seharusnya ia bersekolah.

Beberapa jam kemudian, seorang warga yang tengah mengurus kerbau di sekitar rumah nenek korban menemukan YBS telah tak bernyawa. “Di pohon cengkeh dekat rumahnya,” jelas Camat Tage, menegaskan lokasi kejadian.

Yang semakin menyedihkan adalah kesaksian para tetangga tentang sosok YBS. Mereka menggambarkannya sebagai anak yang baik, jarang terlihat sedih, dan rajin belajar meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi. Gambaran tersebut sangat bertolak belakang dengan keputusan tragis yang diambilnya.

Setelah kejadian, petugas dari Polres Ngada yang mendatangi lokasi menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan menggunakan bahasa daerah setempat. Kertas itu adalah surat perpisahan YBS untuk sang ibu dan keluarga.

“Surat untuk mama. Saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya mama. Jangan pula Mama mencari atau merindukanku. Selamat tinggal mama,” tulis YBS dalam surat pilunya. Surat singkat itu kini menjadi bukti dari beban berat yang mungkin dipikul seorang anak berusia 10 tahun, yang merasa tidak ingin lagi memberatkan keluarganya.

Peristiwa ini meninggalkan luka batin yang mendalam bagi keluarga, terutama sang ibu, serta seluruh warga Dusun Sawasina.