Di tengah gejolak harga minyak dunia dan bayang-bayang krisis energi global, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghadirkan terobosan signifikan. Inovasi bensin sawit (Benwit) yang dikembangkan ITS digadang-gadang menjadi solusi strategis bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.

Proyek strategis ini, yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), hadir di momentum yang tepat. Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, menegaskan bahwa negara-negara ASEAN mulai goyah akibat fluktuasi harga minyak dunia, menjadikan Benwit sebagai keharusan strategis mengingat status Indonesia sebagai produsen sawit terbesar.

“Ini peluang besar bagi pemerintah. Kita punya bahan bakunya, dan sekarang kita punya teknologinya untuk mengurangi beban impor BBM,” ujar Prof. Bambang, Selasa (7/4).

Dr. Eng. Hosta Ardhyananta, ketua tim peneliti dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, menjelaskan rahasia di balik keunggulan Benwit. Timnya menggunakan metode catalytic cracking untuk memecah molekul berat Crude Palm Oil (CPO) menjadi fraksi hidrokarbon ringan yang setara dengan bensin komersial.

Awalnya, proses ini memerlukan suhu ekstrem hingga 420°C. Namun, berkat rekayasa katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO), tim berhasil menurunkan suhu operasi menjadi hanya 380°C.

“Lompatan teknis ini meningkatkan hasil produksi (rendemen) secara drastis dari 60 persen menjadi 83 persen. Artinya, proses ini jauh lebih efisien dan ekonomis untuk skala industri,” ungkap Hosta.

Inovasi ITS juga mengusung konsep zero emission, berbeda dengan riset serupa yang sering menyisakan limbah. Produk sampingan berupa gas dialirkan kembali untuk memanaskan reaktor, sementara residu cairnya tidak dibuang begitu saja.

“Residu cair yang dihasilkan memiliki karakteristik mirip minyak goreng bekas. Ini masih bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bakar kompor, sehingga tidak ada yang terbuang,” tambah pakar nanomaterial tersebut.

Keberhasilan riset yang didukung penuh oleh BPDPKS ini telah diuji coba pada mesin-mesin pertanian dan menunjukkan hasil yang memuaskan. Para petani kini memiliki harapan untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin bumi yang harganya kerap tak menentu.

Menindaklanjuti capaian ini, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, menyatakan pihaknya segera berkoordinasi dengan Kementerian ESDM. Targetnya adalah menjadikan bensin sawit ITS sebagai proyek percontohan nasional.

“Kemandirian teknologi adalah harga mati. Kita tidak boleh terus bergantung pada mesin dan teknologi impor jika ingin benar-benar berdaulat secara energi,” tegas Taufany optimistis.