Aktor Iqbaal Ramadhan mengambil langkah baru di balik layar dengan menduduki kursi eksekutif produser untuk film Monster Pabrik Rambut. Keputusannya ini didasari oleh kedekatan emosional dengan isu yang diangkat dalam film tersebut, yakni eksploitasi tenaga kerja dan sistem kerja yang abusif.

Iqbaal, yang telah berkarier di industri hiburan sejak usia sembilan tahun, mengungkapkan bahwa isu tersebut sangat nyata di dunia profesional. Ia berbagi pengalamannya sendiri selama konferensi pers di Bangka, Jakarta Selatan, pada Senin (20/4/2026).

Iqbaal Ramadhan Soroti Sistem Kerja Eksploitatif

“Buat saya pribadi, saya punya kedekatan yang gede banget gitu sama sistem pekerjaan yang eksploitatif dan juga abusif gitu. Bekerja di industri ini dari saya waktu umur 9 tahun,” ujar Iqbaal.

Meskipun tidak semua pengalamannya menyeramkan, Iqbaal mengaku sering menemukan situasi kerja yang tidak memanusiakan. “Saya nggak bilang semua pengalaman saya menyeramkan seseram pabrik rambut ini, tapi di perjalanan karier saya ada aja tuh ketemu sama kayak situasi-situasi pekerjaan yang kok kayaknya ini sangat tidak memanusiakan manusia ya, untuk mendapatkan keuntungan yang bahkan saya sendiri pun tidak merasakan apa untungnya. Ini buat saya kayak kenapa ini sepihak doang gitu,” lanjutnya, menyoroti ketidakseimbangan dalam sistem kerja.

Bagi Iqbaal, horor sesungguhnya di era modern adalah normalisasi budaya kerja berlebihan atau overwork. Ia menyayangkan bagaimana standar keselamatan dan kesejahteraan karyawan sering diabaikan demi keuntungan sepihak pimpinan perusahaan.

Keresahan ini tidak hanya berasal dari pengalamannya pribadi. Iqbaal juga mengumpulkan berbagai cerita dari rekan-rekannya yang bekerja di beragam bidang, mulai dari kontraktor hingga industri kreatif. Fenomena seperti serangan panik di kantor sebelum atasan datang, menurutnya, adalah bentuk teror nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Nah hal-hal ini yang kayaknya wah ini sih buat saya dekat, ternyata buat orang-orang di sekitar saya orang-orang terdekat saya juga dekat dan saya ngerasa mungkin ini bisa jadi hal yang dekat juga untuk teman-teman di luar sana,” papar Iqbaal.

Ia menambahkan bahwa film ini secara tidak langsung mengkritisi dan membicarakan hal-hal yang menjadi horor karena normalisasi budaya overwork. “Secara nggak langsung juga mengkritisi dan ngomongin hal-hal yang yang bikin horor adalah karena kita sudah sangat menormalisasi overwork ini dan ya ampun ini semua tuh udah kayak sangat dinormalisasi. Jadi akhirnya itulah bentuk horor yang pengen ditampilin di sini,” jelasnya.

Kesadaran akan isu sosial inilah yang memantapkan Iqbaal untuk memproduksi film yang diharapkan dapat memicu diskusi mendalam di kalangan penonton mengenai lingkungan kerja masing-masing. Film ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah kritik tajam terhadap sistem yang merugikan manusia.

Iqbaal berkomitmen untuk menghadirkan visualisasi horor sistemik ini melalui arahan sutradara Edwin. Dengan keterlibatannya sebagai eksekutif produser, Iqbaal ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap isu-isu penting dalam industri kreatif. Penonton diharapkan dapat merasakan keresahan yang sama saat menyaksikan film Monster Pabrik Rambut di bioskop mulai 4 Juni mendatang.