Tiga mahasiswa Universitas Mataram (Unram) asal Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah regional. Muhamad Dicky Subagia, Aryanto Arbi, dan Zidni Ilman sukses meraih juara ketiga dalam ajang Lomba Business Plan yang diselenggarakan oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kompetisi bergengsi ini diikuti oleh 25 tim dari berbagai perguruan tinggi dan kalangan wirausaha muda se-NTB. Setelah melalui tahapan seleksi proposal bisnis yang ketat, hanya 10 tim terbaik yang berhak melaju ke tahap presentasi. Tim mahasiswa Unram asal Masbagik ini menjadi salah satu yang berhasil menembus jajaran 10 besar.
Sesi presentasi ide bisnis mereka digelar di Camoris Coffe & Resto, Pagutan, Mataram, pada Sabtu, 9 Mei 2026, di hadapan tiga juri profesional dari kalangan akademisi dan pengusaha. Keberhasilan mereka berlanjut dengan lolosnya tim ke babak final yang berlangsung di Prime Plaza Hotel Mataram pada Rabu, 13 Mei 2026.
Inovasi KroHerb: Solusi Pakan Ternak Berkelanjutan
Dalam babak final, Tim Universitas Mataram asal Masbagik memaparkan inovasi bisnis mereka yang diberi judul “KroHerb: inovasi pelet pakan ternak fungsional berbasis budidaya kroto herbal untuk mendukung sistem pertanian dan peternakan keberlanjutan.” Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan di sektor peternakan.
Tingginya ketergantungan pada pakan komersial berbahan sintetis dan penggunaan antibiotik sebagai growth promoter dinilai berisiko menimbulkan resistensi antimikroba. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga manusia dan lingkungan. Selain itu, harga pakan berkualitas yang relatif mahal juga menjadi tantangan serius bagi para peternak.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim mahasiswa ini menghadirkan solusi alternatif berupa pelet pakan berbasis kroto dan bahan herbal alami. Inovasi KroHerb diharapkan menjadi pakan yang lebih ekonomis, ramah lingkungan, serta mampu meningkatkan daya tahan tubuh ternak.
Riset Mendalam dan Potensi Herbal
Sebelum dikembangkan menjadi ide bisnis, tim telah melakukan riset dan uji coba skala kecil terkait formulasi pakan berbasis kroto herbal. Penelitian awal ini bertujuan untuk melihat potensi kroto sebagai sumber protein alternatif yang dapat dipadukan dengan bahan herbal alami seperti kunyit, jahe, dan daun kelor.
Secara ilmiah, kunyit (Curcuma Longa), jahe (Zingiber Officinale), dan daun kelor (Moringa Oleifera) diketahui mengandung protein, vitamin, mineral, serta senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan ternak. Daun kelor, khususnya, memiliki kandungan protein cukup tinggi, yakni sekitar 24-26% dalam kondisi kering, serta kaya vitamin A dan C.
Kombinasi antara sumber protein alami dari kroto dan bahan herbal ini dinilai mampu menjadi solusi inovatif dalam pengembangan pakan ternak fungsional yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dukungan Investor dan Visi Pemberdayaan Masyarakat
Presentasi yang dibawakan oleh Tim Universitas Mataram asal Masbagik mendapat perhatian besar dari para investor yang hadir pada tahap final. Tiga investor menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik Kroto Herbal dan Kawasan Eko-Eduwisata berbasis masyarakat.
Muhamad Dicky Subagia menjelaskan bahwa konsep yang mereka bangun tidak hanya berorientasi pada bisnis semata, melainkan juga pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi lokal. "Melalui konsep Eko-Eduwisata yang memadukan kebun mangga, budidaya semut rangrang alami dan sarang buatan hingga proses produksi Kroto Herbal. Masyarakat tidak hanya menjadi pelaku usaha, tetapi juga bagian dari ekosistem pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan peluang bisnis yang luas serta berdaya saing," ujarnya.
Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa daerah mampu menghadirkan inovasi berbasis riset yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan bagi Nusa Tenggara Barat.
