Ketegangan geopolitik di Timur Tengah secara perlahan mengguncang jalur perdagangan global, mulai dari energi, logistik, hingga rantai pasok pangan yang kian rentan dan tidak menentu. Di tengah situasi tersebut, Indonesia justru menunjukkan ketenangan dengan cadangan beras nasional yang kuat, dikelola Perum Bulog sebagai penyangga utama stabilitas pangan.

Memasuki usia ke-59 tahun pada 10 Mei 2026, Perum Bulog memperlihatkan peran yang semakin strategis. Gudang-gudang Bulog yang tersebar di berbagai wilayah kini penuh dengan hasil serapan panen petani dalam negeri. Selama hampir enam dekade, Bulog tidak hanya menjaga stok beras pemerintah, tetapi juga menstabilkan harga, menjembatani petani dan konsumen, serta memastikan pangan hadir merata di seluruh pelosok negeri.

Dari lumbung padi Nusantara inilah Indonesia perlahan kembali menegaskan diri sebagai kekuatan pangan dunia. Bulog menjadi penggerak utama yang menjaga keseimbangan sekaligus mengarahkan perberasan global menuju era baru.

Indonesia Kembali Menjadi Eksportir Beras

Di saat kebutuhan pangan global bergerak dalam ketidakpastian, Bulog mulai melangkah lebih jauh membidik pasar internasional. Langkah itu dibangun dari kekuatan pangan dalam negeri yang terus dijaga melalui cadangan beras pemerintah dan serapan hasil panen petani. Indonesia tak lagi ingin bergantung pada impor, melainkan mengambil peran sebagai eksportir.

Setelah pada 2023 impor mencapai sekitar 3 juta ton dan 2024 sekitar 4 juta ton, pemerintah akhirnya menutup rapat keran impor pada 2025. Langkah menuju pasar global ini bukan cerita baru bagi Indonesia. Kementerian Pertanian mencatat, pada 1984 Indonesia pernah menjadi negara eksportir beras sekaligus meraih swasembada dengan cadangan mencapai 3 juta ton pada masa itu.

Kini semangat itu perlahan kembali dibangun setelah Presiden Prabowo Subianto menetapkan kebijakan menyetop impor beras. Pemerintah membangun pemenuhan kebutuhan nasional dari hasil panen petani dalam negeri sekaligus memperkuat kemandirian pangan. Peningkatan produksi dan penyerapan hasil panen pun diperkuat. Dengan fondasi yang kokoh, pemerintah berupaya menghidupkan kembali kejayaan pangan Indonesia secara bertahap dan berkelanjutan.

Sejak Presiden Prabowo Subianto mengumumkan Indonesia mencapai swasembada beras pada awal Januari 2026, langkah kembalinya pasar ekspor mulai terlihat nyata. Beras hasil panen petani dalam negeri perlahan mulai menembus pasar luar negeri. Pada pekan pertama Maret 2026, Indonesia mencatat sejarah baru melalui ekspor perdana 2.280 ton beras super premium milik Bulog ke Arab Saudi.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan, “beras itu dikirim khusus untuk memenuhi kebutuhan sekitar 215.000 pengibadah haji Indonesia selama berada di Tanah Suci.” Pengiriman tersebut juga menjadi salah satu penanda meningkatnya kepercayaan pasar internasional terhadap kualitas beras Indonesia. Ketertarikan pasar luar negeri pun mulai tumbuh, di mana dua jaringan ritel modern Arab Saudi, Bin Dawood dan Lulu, menyatakan minat untuk menyerap beras Indonesia.

Tak hanya soal perdagangan, Indonesia juga menunjukkan kepedulian kemanusiaan melalui pangan. Sebelumnya, pemerintah telah merealisasikan pengiriman bantuan kemanusiaan berupa 10.000 ton beras untuk rakyat Palestina pada awal Juli 2025. Pengiriman bantuan tersebut merupakan hibah Pemerintah Indonesia atas arahan Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, bahkan dikirim sebelum pemerintah secara resmi mengumumkan capaian swasembada beras.

Kini Bulog kembali membuka peluang pasar baru di kawasan Asia Tenggara. Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan itu tengah memasuki tahap negosiasi harga untuk rencana ekspor beras ke Malaysia sebanyak 200 ribu ton dengan nilai transaksi sekitar Rp2 triliun. Selain Malaysia, perusahaan plat merah ini juga menjajaki negara lain seperti Timor Leste dan Papua Nugini sebagai tujuan pengembangan ekspor beras Indonesia pada 2026.

Stok Beras Melimpah, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Memasuki usia ke-59 tahun, Perum Bulog berada pada fase terkuat sepanjang sejarahnya. Cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola mencapai 5,32 juta ton tanpa impor per 13 Mei 2026. Stok beras itu menjadi yang tertinggi sejak Bulog berdiri pada 10 Mei 1967, bahkan melampaui posisi stok beras pemerintah sejak Indonesia merdeka.

Insan Bulog pusat hingga daerah terus bergerak tanpa mengenal hari libur, turun langsung menjemput gabah petani di sawah, memastikan penyerapan berjalan baik, demi memperkuat stok beras yang siap bersaing di pasar dunia. Seluruh stok itu tersebar di 1.500 gudang milik Bulog dengan kapasitas 3 juta ton lebih, sisanya berada di gudang sewa. Atas kondisi gudang yang penuh, Bulog mendapat anggaran Rp5 triliun dari pemerintah untuk membangun 100 gudang baru yang akan disebar di 92 kabupaten.

Pembangunan diprioritaskan bagi wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP) agar masyarakat tetap memperoleh pangan layak serta terjangkau secara berkelanjutan. Tahun ini Bulog mendapat penugasan dari pemerintah menyerap 4 juta ton gabah setara beras dari petani dalam negeri, dengan realisasi mencapai 2,4 juta ton hingga 6 Mei 2026. Gabah dibeli dengan harga Rp6.500 per kilogram.

Stok beras pemerintah yang dikelola Bulog menjadi katalisator stabilitas ketika terjadi gejolak harga di pasaran. Perannya dijalankan melalui program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan beras. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan mutu dan kualitas jutaan ton cadangan beras itu tetap terjaga melalui pengelolaan optimal dan pengawasan penyimpanan secara nasional. Bahkan, Bulog bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan teknologi penyimpanan modern agar kualitas beras tetap terjaga lebih lama.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyatakan penyerapan stok beras oleh Bulog tahun ini menjadi level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Stok tersebut mampu menyuplai kebutuhan hingga awal tahun 2027. Ketahanan pangan nasional pun semakin kokoh dalam menghadapi gejolak geopolitik global serta kekeringan ekstrem akibat fenomena Godzilla El Nino.

Capaian itu berkat berbagai kebijakan Presiden Prabowo yang pro terhadap petani sehingga produksi padi di dalam negeri meningkat. Kebijakan itu meliputi deregulasi, peningkatan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram dengan ketentuan memasuki masa usia panen, peningkatan volume pupuk subsidi menjadi 9 juta ton, hingga diskon pupuk subsidi 20 persen.

Beras Sebagai “Amunisi Bangsa”

Beberapa negara kini mulai mendatangi Indonesia untuk membeli beras, bahkan ada yang sebelumnya enggan kini perlahan membuka diri di tengah perubahan peta pangan global yang cepat. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Indonesia siap membantu negara lain seiring tercapainya swasembada, namun tetap menjaga harga agar petani dalam negeri tidak dirugikan dalam transaksi perdagangan beras tersebut.

Bagi Prabowo, situasi dunia sedang berubah cepat, ketika negara-negara besar mulai menutup ekspor beras, jagung, dan gandum demi mengamankan kebutuhan pangan domestik masing-masing seperti India. Ketahanan pangan kini tidak lagi sekadar slogan politik, melainkan kebutuhan strategis yang membuat banyak negara kembali menghitung ulang pentingnya cadangan pangan nasional secara serius.

Dalam pidatonya pada peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Presiden menekankan pentingnya menjaga harga beras Indonesia agar tidak terlalu murah ketika memasuki pasar luar negeri. Di sela pidatonya, Prabowo lalu menanyakan posisi Direktur Utama Perum Ahmad Rizal Ramdhani. Dengan nada setengah mengingatkan, Prabowo meminta agar beras Indonesia tidak dilepas terlalu murah ke pasar luar negeri. Dari bawah panggung, jawaban singkat Direktur Utama Perum Bulog langsung terdengar lantang: “Siap.”

Jawaban itu kembali diucapkan ketika Presiden mengingatkan agar kepentingan rakyat dan petani tetap menjadi prioritas utama di tengah permintaan ekspor. Singkat, namun cukup menggambarkan kesiapan Bulog menjalankan tugas negara di tengah situasi pangan dunia yang sedang bergejolak. Tidak ada kalimat panjang atau penjelasan berlebihan dari Dirut Bulog, hanya jawaban tegas yang menandakan instruksi kepala negara dipahami sebagai amanah yang harus dijalankan.

Prabowo menilai krisis global berpotensi berlangsung lama, sehingga Indonesia perlu berhati-hati menjaga cadangan pangan sambil tetap membuka ruang bantuan bagi negara yang membutuhkan. Baginya beras bukan sekadar komoditas, tetapi amunisi bangsa yang menentukan ketahanan hidup negara, sebagaimana logistik menentukan kekuatan pasukan dalam setiap situasi krisis. “Seorang komandan pasukan tempur, yang dipikirkan tidak hanya peluru. Kalau pasukan tidak ada beras, kalau pasukan tidak makan, tidak bisa perang,” kalimat Prabowo tersebut menggema di siang itu.

Konsistensi Produksi Pangan Jaga Stabilitas Inflasi

Konsistensi produksi pangan nasional dinilai menjadi faktor penting menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus stabilitas inflasi hingga akhir 2026 di tengah ketidakpastian global dan tekanan pangan dunia. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Pada periode yang sama tahun sebelumnya, sektor pertanian pernah tercatat menjadi salah satu sumber pertumbuhan utama dengan kontribusi sebesar 1,11 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Pakar Ekonomi Pertanian dari Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, menilai capaian tersebut menunjukkan sektor pertanian memiliki posisi strategis dalam menopang perekonomian nasional, terutama karena berhubungan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat dan menjadi salah satu sektor penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. “Pasokan pangan dan produksi khususnya beras sangat mempengaruhi stabilitas. Karena itu konsistensinya perlu dijaga,” kata Ninasapti.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan. Di tengah kenaikan harga secara umum tersebut, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen yang dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai. Kondisi ini mencerminkan pasokan pangan domestik yang relatif terjaga dan mulai memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga pangan nasional di tengah ketidakpastian global.

Keberhasilan menjaga pasokan dan produksi beras nasional sangat berpengaruh terhadap kestabilan harga kebutuhan pokok masyarakat. Oleh karena itu, konsistensi produksi dinilai menjadi kunci penting dalam menahan tekanan inflasi pangan. Capaian swasembada pangan Indonesia impresif di tengah tekanan krisis pangan global dan perubahan iklim. Keberhasilan tanpa ketergantungan impor menjadi pencapaian penting bagi kawasan tropis Asia. Bulog menjadi katalisator stabilitas inflasi nasional sekaligus mengembalikan posisi Indonesia dalam peta perdagangan perberasan dunia.