Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menekankan pentingnya kredibilitas kebijakan negara dalam upaya menciptakan lapangan kerja di Indonesia. Ia menyebut kredibilitas ini krusial untuk menarik investor.

Dihubungi di Jakarta pada Rabu (4/2/2026) malam, Esther menjelaskan bahwa pembuatan kebijakan yang kredibel oleh pemerintah sangat memengaruhi sentimen investor dan calon investor. Ini penting agar mereka yakin menanamkan modal di Tanah Air.

“Kredibilitas negara itu dicerminkan dari policy making. Jika decision-nya tidak dijalankan dengan baik, nanti investor bisa bertanya-tanya, apakah (investasinya) aman atau tidak di Indonesia,” kata Esther.

Ia melanjutkan, “Itu nanti berpengaruh ke investasi yang masuk, penciptaan lapangan pekerjaan, dan seterusnya.”

Esther juga menyoroti riset Mandiri Institute yang menunjukkan pemulihan konsumsi masyarakat di akhir 2025 bersifat tidak merata. Pola konsumsi mengarah pada k-shaped pattern, di mana kelompok atas semakin kuat sementara kelompok menengah terbatas.

Pola struktural ini menguat pascapandemi, dengan keterbatasan konsumsi kelompok menengah bersumber dari menurunnya kualitas pekerjaan dan implikasi pada pendapatan yang terbatas. Tren incoming fund kelompok menengah belum membaik hingga akhir 2025 dan diprediksi berlanjut pada 2026.

Berkaca pada tren pasar kerja 2025, Esther memperkirakan tahun 2026 tidak akan banyak berubah. Dinamika geopolitik global serta kondisi fundamental ekonomi domestik dan internasional menjadi faktor penentu.

Untuk mendorong perluasan lapangan kerja, Esther menyarankan pemerintah fokus pada industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki. Pemerintah dapat berperan aktif melalui pemberian insentif khusus.

“Kalau misalnya (pemerintah) mau bantu industri tekstil, bisa beri insentif atau subsidi, misalnya subsidi bahan baku, harga bahan baku, subsidi transportasi dan logistik untuk mengurangi biaya logistik dan transportasi, seperti itu,” pungkas Esther.