Menyambut bulan suci Ramadan 2026, Inara Rusli mengunggah sebuah surat terbuka yang penuh refleksi di media sosialnya. Pesan mendalam tersebut mencerminkan sikap rendah hati Inara dalam mengevaluasi perjalanan hidup dan konflik yang sempat ia alami. Surat ini diyakini kuat tertuju kepada Wardatina Mawa, pihak yang disebut-sebut pernah disakiti oleh Inara Rusli.

Refleksi Diri dan Permohonan Maaf

Ibu tiga anak itu menegaskan keinginannya untuk berdamai dengan keadaan serta masa lalu demi ketenangan batinnya. Baginya, meminta maaf adalah bentuk kesadaran atas dampak dari setiap tindakan yang telah ia ambil selama ini, baik disengaja maupun tidak.

“Aku menyesal bukan karena ingin dimaafkan, melainkan karena akhirnya paham, ketidaksengajaan pun bisa melukai, dan ketidaktahuan bukan alasan untuk abai,” tulis Inara Rusli dalam suratnya.

Mantan istri Virgoun ini juga memaknai proses mendengarkan sebagai sebuah tindakan yang jauh lebih berani daripada sekadar berbicara. Ia berharap permohonan maafnya ini bisa menjadi bukti bahwa dirinya sedang berupaya menjadi pribadi yang lebih dewasa.

“Maafku lahir dari perenungan panjang, bahwa mendengar sepenuh hati lebih berani daripada sekadar berbicara. Jika maaf ini sampai Anda, anggaplah ia sebagai niat yang sedang belajar bertumbuh,” ungkapnya dengan tulus.

Inara menekankan bahwa surat ini bukanlah upaya untuk menghapus sejarah atau memaksa orang lain melupakan kejadian pahit di masa lalu. Ia justru ingin menunjukkan rasa tanggung jawab pribadinya atas segala jejak yang telah ia tinggalkan.

“Ia hanya pengakuan sederhana bahwa aku keliru, aku bertanggung jawab atas jejak yang kutinggalkan. Tak dimaksudkan untuk menghapus, apalagi memaksa lupa,” tambahnya lagi dalam surat tersebut.

Sikap Ksatria di Tengah Proses Hukum

Menunjukkan sikap ksatria, Inara menyatakan kesiapannya untuk menerima segala bentuk respons dari pihak yang bersangkutan. Ia mengaku akan tetap menghormati keputusan pihak lain, meskipun permohonan maafnya tidak diterima.

“Jika belum (dimaafkan), aku menghormatinya sepenuh hati,” pungkas Inara menutup surat perenungannya.

Pesan religius ini ia sampaikan di tengah proses hukum laporan dugaan perzinaan yang kini telah naik ke tahap penyidikan, melibatkan dirinya dan Insanul Fahmi. Di sisi lain, Inara juga tetap mengawal laporannya terkait dugaan akses ilegal rekaman CCTV rumah pribadinya di Bareskrim Polri. Perseteruan hukum yang bermula sejak akhir 2025 lalu ini masih terus bergulir dan menjadi sorotan publik.