Hujan deras disertai angin kencang tak menyurutkan antusiasme ratusan warga Solo untuk mendapatkan bubur samin, kuliner legendaris khas Banjar, Kalimantan Selatan. Mereka memadati Masjid Darussalam di Jayengan Kidul, Solo, pada Kamis (19/2) menjelang waktu salat Ashar, mengikuti tradisi pembagian takjil yang telah berlangsung puluhan tahun.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dan berpartisipasi dalam pembagian bubur samin. Terlihat Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, mantan Wali Kota Teguh Prakosa, serta sesepuh Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Adipati Dipokusumo, ikut melayani warga yang mengantre.

Sejarah Panjang Bubur Samin di Solo

Tradisi menyantap bubur samin sebagai takjil puasa di lingkungan Masjid Darussalam, yang merupakan masjid bagi paguyuban warga asal Banjar, telah ada sejak era 1930-an. Namun, pembagian bubur ini kepada masyarakat luas sebagai tradisi bulan puasa Ramadan baru dimulai pada tahun 1985.

Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Bubur Samin, Nurcholis, menjelaskan sejarah panjang tradisi ini. “Tradisi bubur samin sebagai takjil di masjid orang Banjar, yakni Masjid Darussalam Solo ini sudah dilakukan sejak 1930-an. Tetapi menjadi tradisi khas Ramadan yang dirasakan masyarakat luas, atau dibagikan sejak 1985,” ujarnya di sela-sela pembagian bubur khas Banjar tersebut.

Diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Popularitas bubur samin di Kota Solo semakin menguat setelah kuliner tradisional ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Kebudayaan pada tahun 2025. Penetapan ini menjadi pengakuan atas kekayaan budaya yang dimiliki Solo.

Wakil Wali Kota Astrid Widayani menyoroti pentingnya pengakuan tersebut. “Dari 14 kekayaan budaya di Kota Solo yang ditetapkan sebagai Warisan Kebudayaan Tak Benda pada 2025 lalu, bubur samin menjadi salah satu yang ditetapkan Kementerian Kebidayaan. Tentu ini tidak lepas dari branding pembirataan selama ini, dan menjadi penguat Kota Solo untuk melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki,” kata Astrid.

Dukungan Pemerintah dan Antusiasme Masyarakat

Pemerintah Kota Solo menunjukkan komitmennya dalam melestarikan tradisi ini dengan memberikan dukungan nyata. Pemkot menyumbangkan 1,5 ton beras sebagai bahan baku utama pembuatan bubur samin.

Nurcholis mengungkapkan bahwa bantuan beras sebanyak 1.500 kg tersebut sangat membantu panitia Masjid Darussalam dalam mengelola dan membuat bubur samin selama 30 hari penuh bulan Ramadan. “Terimakasih sekali, dan kami akan menerima dengan senang hati uluran tangan dari dermawan lainnya,” imbuhnya.

Untuk memenuhi kebutuhan harian, panitia membutuhkan sekitar 40 hingga 50 kg beras, 4 kg daging sapi, beberapa kilogram wortel, serta bumbu rempah-rempah khas. Setiap hari, sekitar 1.500 paket bubur samin disiapkan, dengan 1.200 paket dibagikan kepada masyarakat umum dan 300 paket lainnya sebagai takjil puasa di Masjid Darussalam. Pembagian bubur samin tahun ini dimulai pada Kamis (19/2).

Kanjeng Gusti Dipokusumo, sesepuh Keraton Kasunanan Solo, mengapresiasi langkah pemerintah dalam menjadikan bubur samin sebagai kekayaan budaya. “Bubur samin kini menjadi salah satu jenang pusaka, setelah Kementerian Kebudayaan menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Ini sangat disambut positif dan menjadi keuntungan untuk Kota Solo, dalam merawat dan mengembangkan untuk kepariwisataan kuliner di Solo,” tandasnya.

Berkah Ramadan yang Dinanti

Bagi masyarakat, tradisi pembagian bubur samin ini adalah berkah yang selalu dinanti di bulan puasa. Eyang Purwanti, warga Sraten yang tinggal tak jauh dari masjid, mengaku telah mengikuti antrean sejak muda. “Saya terlibat ikut antrean menerima bubur samin ini sejak masih muda. Waktu umur saya 30 tahun pada 40 tahun lalu, saya tidak pernah absen. Ikut menerima sebagai berkah, karena rasanya ngangeni dan sangat istimewa di lidah,” tuturnya.

Meski demikian, tidak semua warga yang mengantre selalu berhasil mendapatkan bubur samin. Dengan kuota 1.200 paket untuk masyarakat umum, beberapa harus rela pulang dengan tangan kosong. “Ya hari ini saya datang terlambat antre. Ketika hampir jatuh giliran memberikan rantang untuk diisi bubur samin, ternyata sudah habis. Ya tidak apa apa, masih ada hari esok untuk ikut antre. Mudah mudahan besok tidak terlambat lagi,” ujar Joko Prihadi, yang datang bersama cucunya.

Nurcholis berharap, dengan semakin tertibnya pembagian setiap tahun, serta dukungan dari para dermawan, volume bubur samin yang dibagikan dapat ditingkatkan. Hal ini diharapkan akan semakin memperbesar dan melegenda tradisi bubur samin sebagai bagian tak terpisahkan dari bulan Ramadan di Kota Solo.