Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan bahwa hilal awal Ramadan 1447 Hijriah tidak terlihat dari Gedung Pusat Observasi Bulan (POB) Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Hasil pemantauan menunjukkan posisi hilal berada pada minus 1,268 derajat.

Kepala Kanwil Kemenag NTB, Zamroni Aziz, menyatakan bahwa pihaknya telah melaksanakan sidang terbuka penentuan awal 1 Ramadan yang dipimpin oleh Pengadilan Agama Giri Menang. “Ini pertama kali kita laksanakan pemantauan hilal di Lombok Utara. Dan tentu hasilnya sudah disampaikan dan sudah disidang secara terbuka,” kata Zamroni seusai pemantauan hilal pada Selasa, 17 Februari 2036.

Kesaksian Pemantau dan Hasil Sidang Isbat

Dalam sidang isbat terbuka tersebut, Zamroni menjelaskan bahwa tiga saksi pemantau rukyat hilal dihadirkan. Mereka adalah perwakilan dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), tim observer dari Fakultas Ilmu Falak UIN Mataram, dan BMKG Mataram.

“Dari kesaksian tersebut ditemukan berdasarkan kesaksian oleh para saksi yang sudah disumpah sebelumnya menyatakan bahwa hilal tidak terlihat,” terang Zamroni. Ia menambahkan, berdasarkan perhitungan, posisi bulan berada pada minus 1 derajat, sementara hilal baru dapat terlihat apabila berada pada ketinggian minimal 3 derajat.

Zamroni menegaskan bahwa hasil pemantauan ini akan dilaporkan kepada Kementerian Agama RI sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat nasional. “Apapun hasil yang kami hasilkan hari ini, kami laporkan ke Kementerian Agama sebagai bahan untuk sidang isbat secara nasional,” ujarnya.

Dengan demikian, penentuan awal 1 Ramadan 1447 Hijriah akan menunggu keputusan resmi dari Kementerian Agama RI. “Kami, tentu nanti kita tunggu keputusan pemerintah. Yang jelas apapun yang kami hasilkan tadi, kami sudah kirim ke Kementerian Agama sebagai rujukan sidang isbat di tingkat nasional,” tandas Zamroni.

Penjelasan BMKG Mengenai Kondisi Hilal

Kepala BMKG Kelas I Mataram, Sumawan, turut memberikan penjelasan mengenai hasil pemantauan di Gedung POB Desa Teniga, Lombok Utara. Menurutnya, selisih waktu tenggelam bulan dan matahari hanya berbeda 4 menit, di mana bulan lebih dulu tenggelam.

“Bulan lebih dulu tenggelam 4 menit baru diikuti matahari,” kata Sumawan. Ia juga menyebutkan bahwa tingkat iluminasi bulan sangat rendah, yakni di angka 0,02 persen. Kondisi ini membuat hilal sangat tidak mungkin terlihat pada Selasa, 17 Februari 2036.

“Walaupun cuaca berawan. Pasti akan terlihat kalau memang tinggian-nya memenuhi syarat 3 derajat,” jelasnya.

Selain itu, Sumawan menjelaskan bahwa posisi azimuth bulan yang berada lebih kiri dari posisi matahari, yakni sebesar 256 derajat, juga menjadi kendala. Hal ini menyebabkan teleskop tidak mampu memantau bulan karena terhalang oleh kondisi geografis sekitar.

“Ya agak terhalang di sini oleh pohon karena sebelah kiri kan bukit, jadi kebetulan posisi bulan agak ke kiri. Jadi memang sulit untuk bisa melihat,” ungkapnya.

Sumawan memastikan bahwa petugas BMKG Mataram akan kembali melakukan pemantauan hilal pada Rabu, 18 Februari 2036, di Pantai Loang Baloq Mataram. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data posisi bulan yang lebih akurat. “Kita tetap harus mendapatkan data posisi bulan,” tandas Sumawan.