Pemerintah memastikan stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global dan eskalasi geopolitik yang memicu volatilitas pasar keuangan. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan, kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini kuat dan resilien.
Haryo Limanseto, dalam keterangannya di Jakarta pada Jumat (27/3/2026), menyampaikan bahwa pemerintah menghormati berbagai pandangan dari masyarakat sebagai masukan dalam perumusan kebijakan. “Kami menghormati berbagai pandangan dari masyarakat, perlu kami tambahkan bahwa pemerintah memastikan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat dan resilien, ditopang oleh beberapa faktor utama,” tegas Haryo.
Stabilitas Makroekonomi dan Pertumbuhan
Stabilitas makroekonomi Indonesia disebut tetap terjaga dengan baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,11 persen (yoy), angka yang relatif tinggi dibandingkan negara-negara sejenis. Sementara itu, inflasi tetap berada dalam koridor sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Pemerintah terus menjaga stabilitas ini melalui pengendalian inflasi dan kebijakan stabilisasi harga.
Dari sisi permintaan domestik dan sektor riil, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini didukung oleh berbagai stimulus fiskal dan program bantuan sosial yang digulirkan pemerintah. Aktivitas manufaktur juga menunjukkan kinerja yang kuat, tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) sebesar 53,8, yang berada pada fase ekspansi dan menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Ketahanan Fiskal dan Reformasi Perpajakan
Ketahanan fiskal nasional juga tetap terjaga dengan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang solid. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tumbuh sebesar 30,4 persen (yoy). Pertumbuhan ini didukung oleh reformasi perpajakan dan implementasi digitalisasi melalui sistem Coretax, yang terus memperkuat basis penerimaan negara serta meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
Selain itu, ketahanan pangan dan energi nasional semakin menguat. Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan utama serta mencatat surplus produksi energi melalui program biodiesel. Kondisi ini menjadi bantalan penting dalam menghadapi gejolak global, termasuk dampak dari konflik geopolitik.
Transformasi Ekonomi dan Proyeksi Masa Depan
Pemerintah juga terus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan investasi, serta akselerasi digitalisasi. Pengembangan sektor kendaraan listrik dan energi baru terbarukan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Ke depan, pemerintah tetap optimistis perekonomian Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,4 persen pada tahun 2026, dengan stabilitas yang terjaga serta reformasi struktural yang terus berjalan. Pemerintah juga akan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global, sekaligus memastikan daya tahan ekonomi nasional tetap kuat.
“Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan,” tutup Haryo Limanseto.
