Harga plastik pembungkus di sejumlah daerah di Jawa Tengah melonjak drastis hingga 100 persen. Kenaikan ini memukul pelaku industri dan perdagangan, mendorong Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah untuk kembali menggalakkan konsep ramah lingkungan atau zero waste.
Pemantauan pada Selasa (7/4/2026) menunjukkan, lonjakan harga mencapai 50-100 persen dari harga sebelumnya. Kenaikan harga signifikan terlihat pada plastik jenis PP ukuran 1 kilogram yang melonjak dari Rp16.000 menjadi Rp38.000. Demikian pula, plastik Owol naik dari Rp5.000 menjadi Rp7.000, dan plastik cup dari Rp14.000 menjadi Rp22.000. Bahkan, harga kertas pembungkus nasi juga mengalami lonjakan, dari Rp10.000 per pak menjadi Rp22.000 per pak.
Akibatnya, sejumlah pedagang makanan terpaksa menyesuaikan harga jual produk mereka. Pedagang es jumbo, misalnya, kini mematok harga Rp6.000-Rp7.000 per gelas dari sebelumnya Rp4.000-Rp5.000. Penurunan omzet pun tak terhindarkan dalam beberapa hari terakhir. “Sekarang mengurangi pembungkus plastik untuk menjual makanan. Dagangan nasi bungkus gunakan daun pisang dan kertas koran. Repotnya mencari kertas koran bekas sekarang juga sulit,” ujar Ayong, seorang pedagang nasi Padang di Kota Semarang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah, July Emmylia, menyatakan pihaknya mendorong industri dan pedagang untuk beralih ke konsep ramah lingkungan atau zero waste. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi dampak kenaikan harga plastik terhadap penjualan produk. “Kita terus melakukan monitoring lonjakan harga plastik tersebut. Sebenarnya hal ini malah ada hikmahnya. Ini karena arahnya nanti kan ke zero waste dan sebetulnya pengurangan penggunaan plastik telah didorong,” kata July Emmy.
Ia menambahkan, implementasi dorongan pengurangan penggunaan plastik sebelumnya belum konsisten, sehingga kondisi saat ini menjadi peluang untuk kembali menguatkan gerakan tersebut. “Jadi menurut saya memang kita harus mulai, kalau dulu kan pernah zero plastik, tapi kan tiba-tiba berhenti, itu yang kita harus dorong,” imbuhnya.
Di sisi lain, Disperindag Jawa Tengah juga mencatat penurunan nilai ekspor dari provinsi tersebut dalam sebulan terakhir, terutama pada sektor tekstil. Penurunan ini disebut sebagai dampak dari perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat. July Emmy mengungkapkan, “Ada penurunan nilai ekspor dari Jawa Tengah yang mencapai 7,23 persen atau sekitar US$300 juta, sektor tekstil terutama di kawasan Amerika Serikat dan kawasan Timur Tengah.”
Penurunan ini dipicu oleh gangguan distribusi global dan merosotnya permintaan dari pasar utama. Kendati demikian, terdapat anomali positif pada ekspor ke Arab Saudi. “Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA) yang diterbitkan Disperindag, permintaan dari wilayah tersebut justru meningkat, khususnya untuk kebutuhan pangan jemaah haji,” pungkasnya.
