Sutradara kenamaan Hanung Bramantyo meluapkan kekesalannya terhadap para pejabat menyusul insiden tragis tabrakan kereta api di Stasiun Bekasi Timur. Melalui akun Instagram pribadinya, suami Zaskia Adya Mecca ini tak hanya menyampaikan duka cita, tetapi juga melontarkan kritik tajam yang menjadi sorotan publik.

Insiden maut yang melibatkan KA Argo Bromo dan KRL pada Rabu (28/4/2026) itu memicu reaksi emosional dari Hanung. Ia memanjatkan doa terbaik bagi para korban yang berpulang. “Duka mendalam atas kejadian KA Argo Bromo dan KRL di stasiun Bekasi Timur. Semoga korban diberikan syahid oleh Allah,” tulis Hanung.

Kritik Pedas untuk Pejabat

Namun, suasana duka itu segera berubah menjadi kritik pedas yang ditujukan langsung kepada para pemangku kebijakan. Hanung Bramantyo tampak geram melihat respons serta pola komunikasi publik dari sejumlah pejabat pasca-insiden nahas tersebut.

Kritik ini diduga kuat menyasar pernyataan kontroversial dari pejabat kementerian yang dinilai tidak menunjukkan rasa simpati kepada para korban. Pernyataan Menteri PPPA terkait wacana pengaturan gerbong kereta menjadi salah satu hal yang memicu kemarahan publik akhir-akhir ini.

Secara blak-blakan, Hanung meminta para pejabat untuk lebih menjaga lisan jika memang tidak mampu menghadirkan solusi konkret atas masalah keselamatan transportasi. Ia menegaskan, “Kalo ndak isa nglakuin sesuatu mending mingkem.”

Soroti Keamanan Perlintasan dan Premanisme

Tak hanya soal gaya bicara pejabat, Hanung juga menyoroti bobroknya sistem keamanan perlintasan rel kereta api yang masih sering mengancam nyawa warga sipil. Ia mendesak Kementerian Perhubungan dan PT KAI untuk berhenti bersikap pasif dalam membenahi titik-titik perlintasan yang rawan kecelakaan.

Sutradara film Bumi Manusia ini menuntut pembangunan palang pintu perlintasan yang memenuhi standar keamanan demi menjamin keselamatan masyarakat luas. Menurutnya, fasilitas dasar tersebut merupakan hak publik yang tidak boleh diabaikan lagi oleh otoritas transportasi nasional.

Lebih lanjut, Hanung membongkar adanya dugaan hambatan pembangunan infrastruktur keselamatan akibat ulah oknum ormas yang mencari keuntungan pribadi. Ia menyebut praktik pungutan liar oleh “Pak Ogah” sering kali menjadi alasan terselubung mengapa fasilitas palang pintu resmi sulit direalisasikan.

Menghadapi situasi tersebut, Hanung memohon dengan sangat agar institusi Polri dan TNI segera turun tangan untuk memberantas aksi premanisme di jalur perkeretaapian. Ia menyerukan, “TINDAK TEGAS ORMAS APAPUN yang melarang pembuatan palang pintu kereta hanya demi income preman pak Ogah. Please, please… pak Polisi. TNI. Please…”

Unggahan yang sarat akan keresahan sosial ini segera mendapatkan atensi luas dan telah disukai oleh lebih dari empat ribu pengguna Instagram. Sebagian besar warganet memberikan dukungan penuh terhadap desakan Hanung demi perbaikan sistem keselamatan transportasi di Indonesia.