Profesor Lina Listiana, Guru Besar bidang Pembelajaran Metakognitif dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), menegaskan pentingnya pendekatan metakognitif sebagai kunci transformasi pendidikan di tengah era disrupsi. Tanpa kemampuan ini, peserta didik berisiko tertinggal dalam pengembangan berpikir kritis dan kemandirian.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Lina usai pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar di Umsura pada Kamis (30/4/2026). Ia menyoroti bahwa praktik pendidikan nasional masih cenderung mempertahankan pola lama yang berpusat pada guru, padahal tuntutan abad ke-21 memerlukan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.

“Metakognitif membuat peserta didik tidak hanya belajar ‘apa’, tetapi juga memahami ‘bagaimana mereka belajar’,” tutur Prof. Lina. Ia menambahkan bahwa sistem pembelajaran saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan penyampaian materi.

Kondisi di lapangan menunjukkan tantangan signifikan, di mana banyak kelas masih menerapkan metode satu arah dan kemampuan refleksi siswa relatif rendah. Hal ini menyebabkan proses belajar seringkali berhenti pada hafalan tanpa mencapai pemahaman yang mendalam.

Konsep metakognisi, yang pertama kali diperkenalkan oleh John H. Flavell pada tahun 1979, didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami dan mengendalikan proses berpikir seseorang. Pendekatan ini mencakup dua aspek utama: pengetahuan tentang cara berpikir dan kemampuan untuk mengatur proses tersebut.

Dalam implementasinya, Prof. Lina menjelaskan tiga tahapan krusial. Pertama adalah perencanaan, di mana siswa menetapkan tujuan dan strategi belajar. Kedua, pemantauan, yaitu kemampuan untuk mengecek pemahaman selama proses belajar berlangsung. Ketiga, evaluasi reflektif, yang bertujuan untuk menilai efektivitas strategi yang telah digunakan.

Tahapan-tahapan ini memiliki dampak langsung pada kualitas belajar siswa. Mereka menjadi lebih terarah, mampu mendeteksi kesalahan sejak dini, dan terbiasa memperbaiki cara berpikirnya. “Pemantauan penting untuk mendeteksi kesalahan konsep sejak dini,” kata Prof. Lina.

Perkembangan teori metakognitif juga diperkuat oleh kontribusi akademisi lain. Ann L. Brown mengembangkan pendekatan reciprocal teaching yang berbasis diskusi dan refleksi, sementara Barry Zimmerman memperkenalkan Self-Regulated Learning (SRL) yang menempatkan metakognisi sebagai inti kemandirian belajar.

Prof. Lina menegaskan bahwa tanpa metakognisi, siswa akan kesulitan mencapai pemahaman mendalam. “Metakognisi menjadi inti pembelajaran mandiri. Tanpa itu, sulit mencapai deep learning,” ucapnya.

Oleh karena itu, perubahan metode belajar menjadi kebutuhan mendesak. Model kooperatif dinilai efektif karena mampu mendorong interaksi dan kesadaran berpikir. Strategi seperti GITTW juga disebut dapat mengasah nalar kritis sekaligus kreativitas siswa.

Ke depan, Prof. Lina mendorong penguatan riset metakognitif serta integrasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan, dalam pembelajaran. Langkah ini diyakini dapat mempercepat adaptasi sistem pendidikan terhadap perubahan zaman. “Pendidikan harus melahirkan pembelajar sepanjang hayat yang mampu mengelola proses berpikirnya sendiri,” tutupnya.