Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa isu zakat, infak, dan sedekah tidak seharusnya menjadi pembahasan eksklusif. Ia menyerukan agar praktik filantropi Islam ini lebih terbuka dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Zakat tidak boleh menjadi isu yang eksklusif. Zakat harus menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Ketika zakat menjadi budaya bersama, maka dampaknya akan sangat besar bagi pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan,” kata Iqbal saat menghadiri kegiatan NTB Berzakat yang dirangkai dengan Talk Show Gerakan Zakat NTB, Rabu.

Menurut Iqbal, pengarusutamaan zakat sebagai budaya kolektif akan memberikan dampak signifikan terhadap upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan di NTB. Pernyataan ini disampaikannya dalam acara yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) NTB.

Indonesia, lanjut Iqbal, dikenal sebagai negara dengan tingkat kedermawanan tertinggi di dunia berdasarkan World Giving Index. Capaian ini menunjukkan kuatnya budaya berbagi dan semangat filantropi yang telah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Setiap kegiatan charity di Indonesia hampir selalu dipenuhi antusiasme dan dukungan donasi yang besar. Ini bukan hal yang mudah ditemukan di banyak negara lain. Semangat berbagi ini harus terus kita jaga dan perkuat,” ujarnya, menekankan pentingnya menjaga dan memperkuat semangat tersebut.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap Gerakan Zakat NTB, Gubernur Iqbal secara pribadi menyerahkan infak sebesar Rp30 juta. Wakil Gubernur NTB juga turut berpartisipasi dengan menyerahkan infak sebesar Rp20 juta. Kontribusi ini diharapkan dapat menjadi teladan dan memotivasi berbagai pihak untuk ikut serta dalam gerakan zakat di NTB.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Kepala Kejaksaan Tinggi, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintah Provinsi NTB, serta berbagai mitra strategis seperti NTB Syariah, DPR, Jamkrida, dan GNE. Kehadiran beragam unsur ini menunjukkan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung penguatan peran zakat bagi kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Provinsi NTB, kata Iqbal, memberikan dukungan penuh terhadap upaya memasyarakatkan zakat melalui berbagai inovasi program yang inklusif. Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan NTB Berzakat yang dinilai unik karena menghadirkan isu zakat, infak, dan sedekah di ruang publik yang lebih terbuka dan dekat dengan masyarakat.

“Melalui kegiatan NTB Berzakat dan Talk Show Gerakan Zakat NTB ini diharapkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menunaikan zakat semakin meningkat, sehingga pengelolaan zakat di NTB semakin optimal dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat yang membutuhkan,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Baznas NTB Lalu M. Iqbal Murad memaparkan pencapaian pendistribusian dan pendayagunaan zakat sepanjang tahun 2025. Baznas telah menyalurkan manfaat zakat kepada 38.612 jiwa di NTB.

“Jumlah tersebut mencakup bantuan konsumtif bagi fakir dan miskin sesuai ketentuan delapan asnaf, sekaligus penguatan program pendayagunaan dan pemberdayaan ekonomi,” ungkap Lalu M. Iqbal Murad.

Ia juga mendorong para mustahik untuk bertransformasi menjadi pelaku usaha melalui program ultra mikro dan mikro. “Hingga saat ini hampir 400 mustahik telah diberdayakan melalui program ekonomi produktif berbasis zakat,” tuturnya.

Lalu M. Iqbal Murad menambahkan, komunikasi dan sinergi dengan Baznas RI terus diperkuat, sehingga NTB memperoleh dukungan berbagai program nasional seperti lumbung pangan, Z-Mart, hingga beasiswa bagi mahasiswa. “Seluruh dana yang dihimpun dikelola dan disalurkan secara amanah dan penuh tanggung jawab, sehingga manfaat zakat dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat NTB,” pungkasnya.