Aktivitas pelayaran di sepanjang pesisir utara (Pantura) Jawa Tengah lumpuh total sejak sepekan terakhir. Gelombang tinggi mencapai 1,25 hingga 2,5 meter disertai hujan badai menyebabkan ribuan kapal nelayan tak berani melaut dan penyeberangan antar pulau terhenti.

Pantauan pada Jumat (16/1/2026) menunjukkan ribuan kapal ikan masih bersandar di sejumlah pelabuhan perikanan dan muara sungai di berbagai daerah Pantura Jawa Tengah. Para nelayan memilih untuk tidak melaut demi keselamatan.

Tidak hanya nelayan, penyeberangan antar pulau seperti rute Jepara-Karimunjawa dan Tanjung Emas Semarang-Karimunjawa juga terhenti. Kapal layar motor (KLM) pengangkut barang rute Semarang-Kalimantan pun memilih menunggu kondisi gelombang mereda, meskipun sudah bersiap untuk berlayar.

Andika (45), seorang pengurus KLM di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, mengungkapkan bahwa hanya kapal penumpang berukuran besar yang masih berani beroperasi. “Hanya kapal penumpang besar yang berani melaut dalam kondisi gelombang tinggi dan cuaca buruk di perairan utara saat ini,” ujarnya pada Jumat (16/1/2026).

Senada, Sapawi (50), seorang nelayan di Pelabuhan Wedung, Demak, menuturkan bahwa nelayan di Pantura Jawa Tengah, dari Brebes hingga Rembang, telah berhenti melaut lebih dari sepekan. Kondisi ini terutama berdampak pada nelayan yang menggunakan kapal kecil dengan mesin berkapasitas di bawah 40 PK. “Kapal ikan besar juga berhati-hati dalam kondisi cuaca seperti ini,” tambahnya.

Sektor pariwisata juga terdampak. Ari, pengurus wisata di Jepara, mengaku hampir sepekan menganggur karena tidak ada penyeberangan Jepara-Karimunjawa. Kapal penumpang seperti KMP Siginjai dan kapal ekspres telah bersandar di Pelabuhan Kartini Jepara selama berhari-hari. “Tidak ada aktivitas pelabuhan Kartini, karena tidak ada penyeberangan orang maupun barang yang berlangsung dan masih menunggu kondisi gelombang di perairan ini,” imbuhnya.

Kepala Seksi Kepelabuhan Dinas Perhubungan Kabupaten Jepara, Luthfi Fuadi, membenarkan situasi tersebut. Berdasarkan prediksi BMKG, gelombang tinggi di perairan Jepara yang mencapai 2,5 meter diperkirakan masih akan berlangsung hingga pekan mendatang. “Dengan kondisi ini, belum diperbolehkan untuk berlayar termasuk pelayaran penyeberangan ke Karimunjawa dari Jepara, diperkirakan sampai akhir pekan besok masih berhenti,” jelas Luthfi Fuadi.

Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Lessy Andari, menambahkan bahwa gelombang tinggi 1,25-2,5 meter disertai hujan badai masih melanda perairan utara Jawa Tengah. Masyarakat yang beraktivitas di perairan diminta waspada karena risiko pelayaran meningkat saat kecepatan angin di atas 15 knot.

Selain gelombang tinggi, Lessy Andari juga mengingatkan akan potensi air laut pasang (rob) di perairan utara Jawa Tengah. Warga di sejumlah daerah Pantura, meliputi Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara, dan Pati, diminta untuk waspada terhadap ancaman banjir rob.