Ajang balap mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1, secara resmi membatalkan dua seri dalam kalender musim 2026, yakni Grand Prix Bahrain dan Grand Prix Arab Saudi. Keputusan ini diambil menyusul eskalasi konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah setelah pecahnya perang yang melibatkan Iran.

Pengumuman pembatalan tersebut disampaikan pada Minggu pagi, 15 Maret 2026, di Shanghai, bertepatan dengan rangkaian akhir pekan balapan F1 Grand Prix China 2026. Situasi keamanan yang tidak menentu serta gangguan perjalanan internasional di kawasan tersebut membuat penyelenggaraan dua balapan itu dianggap tidak memungkinkan.

Dua Seri April Dipastikan Tidak Digelar

Pada kalender awal musim 2026, Formula 1 menjadwalkan dua seri di Timur Tengah sebagai putaran keempat dan kelima. Balapan di Bahrain International Circuit direncanakan berlangsung pada 10–12 April, sementara seri berikutnya digelar di Jeddah Corniche Circuit pada 17–19 April.

Namun, sejak konflik regional meningkat pada akhir Februari, kondisi logistik dan perjalanan di kawasan tersebut menjadi tidak stabil. Maskapai penerbangan membatasi rute, sementara berbagai negara menerapkan pembatasan perjalanan, sehingga mobilisasi tim, peralatan, serta personel F1 menjadi sangat sulit dilakukan.

Dalam pernyataan resmi, pihak Formula 1 menegaskan bahwa kedua balapan tersebut tidak akan berlangsung sesuai jadwal pada April. “Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi tidak akan berlangsung pada April. Mengingat situasi yang sedang terjadi di Timur Tengah, balapan tersebut bersama seri F2, F3, dan F1 Academy tidak dapat diselenggarakan sesuai jadwal,” tulis pernyataan resmi Formula 1.

Kalender F1 2026 Berkurang Jadi 22 Seri

Dengan pembatalan dua seri tersebut, kalender Formula 1 2026 yang semula berjumlah 24 balapan kini menyusut menjadi 22 putaran. Formula 1 memutuskan tidak akan mengganti kedua balapan tersebut dengan seri lain dalam waktu dekat, mengingat kesulitan logistik untuk mempersiapkan balapan di sirkuit alternatif dalam waktu singkat.

Dampaknya, akan muncul jeda cukup panjang dalam kalender balap. Setelah Grand Prix Jepang pada akhir Maret, Formula 1 baru akan kembali menggelar balapan pada awal Mei di Grand Prix Miami. Meski demikian, pernyataan resmi F1 masih membuka kemungkinan bahwa kedua seri tersebut dapat dijadwalkan ulang jika situasi keamanan di kawasan Timur Tengah membaik.

Keselamatan Jadi Prioritas Utama

Presiden dan CEO Formula 1, Stefano Domenicali, menyebut keputusan ini merupakan langkah yang sulit namun harus diambil demi keselamatan semua pihak. Menurut Domenicali, F1 tetap memiliki hubungan yang kuat dengan para promotor di Bahrain dan Arab Saudi, serta berharap dapat kembali menggelar balapan di kedua negara tersebut ketika situasi sudah memungkinkan.

Sementara itu, Presiden Fédération Internationale de l’Automobile (FIA), Mohammed Ben Sulayem, menegaskan bahwa keselamatan komunitas motorsport menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan tersebut. Ia juga menyampaikan harapan agar stabilitas dan keamanan di kawasan Timur Tengah dapat segera pulih.

Dampak Konflik Juga Terasa di Ajang Motorsport Lain

Formula 1 bukan satu-satunya kejuaraan yang terdampak konflik di kawasan tersebut. Kejuaraan ketahanan dunia FIA World Endurance Championship sebelumnya juga menunda seri pembuka musimnya di Qatar yang semula dijadwalkan berlangsung pada akhir Maret. Balapan Grand Prix Qatar dalam kalender MotoGP juga berada dalam ketidakpastian.

CEO promotor MotoGP, Carmelo Ezpeleta, sebelumnya mengisyaratkan bahwa balapan tersebut kemungkinan besar tidak dapat digelar sesuai jadwal. Rumor yang berkembang di paddock menyebut MotoGP tengah mempertimbangkan untuk memindahkan seri Qatar ke akhir musim, meskipun keputusan resmi masih menunggu perkembangan situasi.

Promotor Lokal Dukung Keputusan F1

Pihak promotor balapan di Timur Tengah menyatakan memahami keputusan yang diambil oleh F1. Chief Executive Bahrain International Circuit, Sheikh Salman bin Isa Al Khalifa, mengatakan pihaknya mendukung penuh langkah yang diambil oleh F1 dan FIA.

Sementara itu, Ketua Saudi Automobile and Motorcycle Federation, Prince Khalid bin Sultan Al-Abdullah Al-Faisal, menyebut para penggemar di Arab Saudi sebenarnya sangat menantikan balapan di Jeddah pada April. Namun, mereka memahami pertimbangan keselamatan yang menjadi dasar keputusan tersebut.

Dampak pada Persaingan Musim 2026

Pengurangan jumlah balapan berpotensi memengaruhi dinamika perebutan gelar juara dunia musim ini. Dengan lebih sedikit seri yang digelar, peluang tim dan pembalap untuk mengumpulkan poin menjadi lebih terbatas. Tim-tim besar seperti Mercedes-AMG Petronas Formula One Team, Scuderia Ferrari, dan Red Bull Racing kini harus menyesuaikan strategi mereka menghadapi kalender yang lebih singkat sepanjang musim 2026.