MONTREAL — Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir menggelar pertemuan strategis dengan Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino di Montreal, Kanada, pada Jumat, 01 Mei 2026. Pertemuan ini berlangsung jelang pembukaan Kongres FIFA 2026 dan menjadi momentum krusial bagi arah pengembangan sepak bola Indonesia dalam satu dekade mendatang.
Lima Pilar Utama Pembahasan
Diskusi antara Erick Thohir dan Gianni Infantino berpusat pada lima pilar utama yang akan menjadi fondasi transformasi sepak bola Tanah Air. Pilar pertama adalah program sertifikasi stadion berstandar FIFA, dengan target minimal lima venue siap menggelar pertandingan internasional pada tahun 2027.
Pilar kedua menyoroti dana FIFA Forward, yang akan difokuskan pada transparansi penggunaan dan dampak terukur. Selanjutnya, pilar ketiga adalah hilirisasi pengembangan pemuda melalui Youth League berbasis zona, guna menjaring talenta-talenta muda secara lebih merata.
Pilar keempat mencakup percepatan integritas kompetisi, termasuk implementasi teknologi semi-otomatis untuk wasit (SAOT). Terakhir, pilar kelima menekankan penegakan tata kelola federasi yang lebih baik dan profesional.
Menanggapi potensi besar Indonesia, Infantino menegaskan komitmen FIFA untuk mendampingi. “Indonesia punya potensi pasar dan demografi terbesar, tapi harus diimbangi dengan fondasi kompetisi yang kuat,” ujarnya.
Dampak Langsung pada Liga 1
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, PSSI berencana memberlakukan standar minimum kompetisi baru untuk Liga 1. Klub-klub akan diwajibkan memiliki fasilitas latihan berlisensi, tim medis berstandar FIFA, dan sistem keamanan stadion terintegrasi. Kebijakan ini akan mulai diuji pada musim kompetisi 2025/2026 dengan masa transisi selama enam bulan.
Diskusi juga memperkuat rencana penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) secara penuh di seluruh pertandingan Liga 1 pada putaran kedua musim ini. Persiapan untuk implementasi SAOT juga akan dilakukan pada musim depan. Selain itu, federasi akan memperketat aturan pemain muda U-23 yang wajib bermain minimal 1.000 menit per musim, serta mewajibkan setiap klub memiliki akademi berlisensi PSSI.
Peta Jalan Prioritas 12 Bulan
PSSI telah menyusun peta jalan prioritas untuk 12 bulan ke depan:
- Q3 2025: Penyelesaian audit stadion kandang klub Liga 1 oleh tim FIFA; peluncuran platform data pemuda nasional.
- Q4 2025: Implementasi penuh VAR di Liga 1; kick-off Youth League zona; peluncuran PSSI Integrity App.
- Q1 2026: Uji coba SAOT di pertandingan piala nasional; inspeksi sertifikasi lima stadion prioritas.
- Q2 2026: Rapat evaluasi bersama FIFA; publikasi laporan transparansi dana FIFA Forward.
Tolok Ukur Kemajuan Publik
Untuk mengukur kemajuan, beberapa tolok ukur akan dipublikasikan secara transparan:
- Jumlah stadion bersertifikat FIFA: target 5 pada akhir 2026.
- Peringkat FIFA Timnas Indonesia: target masuk 100 besar.
- Cakupan VAR dan SAOT di seluruh pertandingan Liga 1.
- Menit bermain U-23 rata-rata per klub Liga 1.
- Jumlah akademi berlisensi PSSI: target 36 akademi aktif.
- Prestasi timnas U-17, U-20, dan U-23 di kompetisi AFC dan FIFA.
Semua data ini akan diunggah di situs resmi PSSI dan dasbor publik FIFA Forward, memastikan akuntabilitas kepada masyarakat.
Kesimpulan
Pertemuan antara Erick Thohir dan Gianni Infantino ini mengirimkan sinyal kuat bahwa Indonesia tidak lagi dianggap sebagai federasi pasif. Dengan fondasi regulasi yang jelas, percepatan teknologi, serta transparansi publik, sepak bola Tanah Air memiliki peluang besar untuk menjadi model pembangunan olahraga di kawasan ASEAN. Namun, seperti yang ditekankan Infantino, “Potensi harus diimbangi dengan eksekusi yang konsisten.”
