Surabaya, Kamis (02/04/2026) – Ekonom Universitas Surabaya (Ubaya), Firman Rosjadi Djoemadi, menegaskan bahwa upaya menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) akan lebih efektif jika dilakukan melalui efisiensi fiskal dan penguatan energi domestik. Menurutnya, langkah ini lebih mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global dibandingkan dengan menaikkan harga BBM di pasar.
Efisiensi Fiskal sebagai Solusi Jangka Pendek
Firman menjelaskan bahwa pemerintah memiliki ruang fiskal yang memadai untuk melakukan penghematan dari internal birokrasi. Dana hasil penghematan tersebut, kata Firman, dapat dialihkan menjadi subsidi yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat. “Pemerintah sebenarnya punya ruang fiskal yang lebih baik. Dana itu bisa digunakan untuk meningkatkan daya beli masyarakat,” ujar Firman pada Selasa (31/3/2026).
Ia merinci, efisiensi dapat dimulai dari pengurangan belanja operasional, seperti perjalanan dinas dan konsumsi listrik di kantor-kantor pemerintahan. Selain itu, penerapan sistem kerja fleksibel atau work from anywhere (WFA) bagi aparatur sipil negara (ASN) juga dinilai mampu menekan konsumsi energi secara signifikan. “Work from anywhere oleh ASN itu bisa mengurangi biaya listrik dan transportasi,” jelasnya.
Memaksimalkan Potensi Gas Domestik
Di sisi lain, Firman menekankan urgensi percepatan transisi energi dengan memanfaatkan cadangan gas domestik yang melimpah. Menurutnya, penggunaan gas alam cair (LNG) dapat menjadi solusi konkret untuk mengurangi ketergantungan impor, khususnya dalam konsumsi elpiji. “Kita punya cadangan domestik yang besar. Itu bisa segera digunakan untuk menggantikan LPG,” kata Firman.
Ia juga mendorong percepatan pembangunan infrastruktur jaringan gas perkotaan sebagai langkah strategis jangka panjang dalam menjaga ketahanan energi nasional. “Langkah ketahanan energi yang paling realistis adalah percepatan penggunaan gas LNG,” tegasnya.
Insentif Kendaraan Listrik dan Respons Psikologis Masyarakat
Firman juga mendorong pemerintah untuk memperkuat insentif konversi kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Skema bantuan harga dinilai lebih efektif dalam mengubah perilaku konsumsi masyarakat dibandingkan kebijakan yang bersifat menekan. “Skema insentif beralih ke kendaraan listrik itu yang pemerintah harus berani dan dipermudah,” ucapnya.
Ia menambahkan, kondisi psikologis masyarakat yang tengah cemas terhadap ketidakpastian energi global perlu direspons dengan kebijakan yang menenangkan. Menurutnya, pendekatan insentif akan mempercepat transisi energi tanpa memicu gejolak sosial. “Untuk saat ini saya kira lebih baik insentif karena psikologis masyarakat sedang cemas,” tandasnya.
Efisiensi di Sektor Industri
Terkait sektor industri, Firman menilai ruang efisiensi energi cukup terbatas, terutama jika menyentuh proses produksi utama. Ia mengingatkan, penghematan yang tidak tepat justru berisiko menurunkan output ekonomi. “Industri penghematannya bukan di energi, tapi di aspek lain. Kalau energi dikurangi, produksinya bisa terganggu,” ungkapnya. Menurutnya, efisiensi di sektor industri lebih tepat dilakukan pada fasilitas pendukung, seperti pengaturan penggunaan listrik di area perkantoran pabrik.
