Gresik, 23 Februari 2026 – Sebuah riset kolaboratif antara lembaga konservasi lingkungan Ecoton dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) mengungkap temuan mengejutkan: mikroplastik kini telah mencemari darah dan air ketuban perempuan di Gresik, Jawa Timur. Temuan ini menjadi peringatan serius akan dampak konsumsi plastik sekali pakai yang tak terkendali terhadap kesehatan generasi mendatang.

Infiltrasi Mikroplastik dalam Darah dan Rahim

Penelitian yang dilakukan Ecoton dan Unair mendeteksi keberadaan partikel plastik berukuran mikro pada sejumlah perempuan di Gresik. Hasilnya mengkhawatirkan, 100 persen sampel darah yang diuji positif mengandung mikroplastik dengan ukuran lebih besar dari 0,45 µm. Jenis polimer yang dominan teridentifikasi adalah polyethylene (PE) dan poly(n-butyl methacrylate) (PBMA).

Peneliti Mikroplastik Ecoton, Sofi Azilan Aini, menyebut fenomena ini sebagai “kutukan” dari pola konsumsi plastik sekali pakai. “Plastik yang kita buang sembarangan pada akhirnya kembali ke tubuh kita. Infiltrasi mikroplastik dalam darah adalah ancaman kesehatan paling mengkhawatirkan karena partikel ini menetap di organ vital dan berpotensi merusak sel,” ujar Sofi pada Senin (23/2/2026).

Indonesia sendiri tercatat sebagai penyumbang sampah plastik lautan terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Nigeria, memperparah ancaman ini.

Ancaman pada Janin dan Perkembangan Otak

Temuan serupa juga terungkap dari ruang persalinan. Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, memaparkan hasil uji terhadap 42 sampel air ketuban (amnion) ibu melahirkan di Gresik. Seluruh sampel tersebut terbukti tercemar mikroplastik, terutama jenis polyethylene yang umum ditemukan pada botol minuman, pembungkus makanan panas, dan tas kresek.

“Ditemukannya mikroplastik dalam ketuban berdampak langsung pada pertumbuhan bayi. Ada korelasi kuat antara keberadaan partikel plastik dengan peningkatan Malondialdehide (MDA), yaitu penanda peradangan yang bisa mengganggu perkembangan janin,” jelas Rafika.

Tidak hanya darah dan rahim, mikroplastik juga dilaporkan telah mencapai jaringan otak manusia. Merujuk pada riset kolaboratif Greenpeace dan Universitas Indonesia pada Maret 2025, konsentrasi plastik di otak ditemukan 7 hingga 30 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pada organ hati maupun ginjal. Paparan zat kimia toksik dari plastik di jaringan saraf ini berisiko menurunkan kemampuan kognitif manusia secara bertahap.

Desakan untuk Perubahan Kebijakan

Data menunjukkan kegagalan pengelolaan sampah di hulu, dengan timbulan sampah nasional tahun 2023 mencapai 31,9 juta ton, namun 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola. Ecoton mendesak adanya langkah radikal untuk menghentikan penggunaan plastik sekali pakai.

Mikroplastik dapat menyusup ke tubuh tidak hanya melalui mulut dan pernapasan, tetapi juga melalui kulit, termasuk dari produk kosmetik yang mengandung scrub plastik. Ecoton memperingatkan, jika perilaku masyarakat dan ketegasan pemerintah tidak berubah, “kutukan” plastik ini akan terus mengalir di nadi generasi masa depan Indonesia.