Bulan suci Ramadan tahun 2026 ini disambut dengan suasana berbeda dan kesedihan mendalam oleh para penyintas bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Tragedi yang terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026 lalu itu telah merenggut lebih dari 80 jiwa, meninggalkan luka yang teramat dalam bagi keluarga korban.

Salah satu penyintas, Yayah (50), warga Kampung Babakan, hingga kini masih sulit menerima kenyataan pahit yang menimpanya. Ia kehilangan tujuh anggota keluarga sekaligus dalam musibah tersebut.

Kehilangan Tujuh Anggota Keluarga, Yayah Berusaha Bangkit

Yayah menuturkan, menjelang Ramadan, keluarganya biasanya selalu berkumpul untuk makan bersama dan merencanakan berbagai aktivitas selama bulan puasa. Namun, kini semua itu hanya tinggal kenangan.

“Masih trauma, rasanya seperti mimpi tapi nyata. Biasanya jelang Ramadan kumpul sama ibu dan saudara. Sekarang semuanya sudah ninggalin,” ujar Yayah pada Rabu (18/2/2026).

Ia merinci, tujuh anggota keluarga yang meninggal dunia terdiri dari ibu kandungnya serta enam anggota keluarga dari pihak suami. “Ibu kandung terus dari keluarga suami, dua keluarga ada enam orang. Jadi total tujuh orang yang meninggal dalam kejadian itu,” tuturnya.

Sebelum bencana, Yayah dan keluarganya selalu melakukan aktivitas sehari-hari bersama. “Ke mana-mana sama ibu. Mau ke kebun, cari rumput bareng. Mau makan juga selalu bareng,” kenangnya.

Satu Korban Longsor Masih Hilang, Imar Berharap Tabah

Kisah pilu serupa juga dialami Imar, penyintas lainnya. Ia kehilangan enam anggota keluarga besarnya akibat terjangan longsor. Dari keenam korban tersebut, satu di antaranya, Tedri Mauludin yang masih duduk di bangku kelas 5 SD, hingga kini belum ditemukan.

“Dua keluarga enam orang korban. Tapi masih ada satu yang belum ketemu bernama Tedri Mauludin yang masih sekolah di kelas 5 SD,” kata Imar.

Menjelang Ramadan kali ini, Imar mengaku hanya bisa berusaha tabah demi anak dan cucunya. Kebiasaan berkumpul dan saling mengunjungi rumah keluarga yang biasa dilakukan menjelang Ramadan kini tak lagi bisa terwujud.

“Masih terasa sedih, biasa berkumpul tapi sekarang jadi sepi. Tapi saya harus tabah sama anak sama cucu,” tambah Imar.

Rumah keluarga Yayah dan Imar luluh lantak setelah diterjang longsor dari atas bukit Gunung Burangrang. Hampir selama tiga pekan, keluarga yang tersisa terpaksa tinggal di pengungsian. Kini, mereka telah menempati rumah kontrakan sementara sambil menanti hunian tetap dari pemerintah.