Sebelas relawan dari berbagai negara, termasuk enam perwakilan terbaik Indonesia, memulai misi kemanusiaan menantang ke Gaza. Mereka akan menembus perbatasan Rafah melalui jalur darat, sebuah inisiatif yang dikenal sebagai Land Convoy. Pelepasan resmi para relawan ini dilakukan di Masjid Nuruzzaman, Kampus B Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, pada Minggu (3/5/2026).
Dari enam relawan asal Indonesia, dua di antaranya berasal dari Surabaya, sementara sisanya merupakan perwakilan dari Jakarta dan Bandung. Mereka akan bergabung dalam gerakan masyarakat sipil global yang bertajuk Global Sumud Flotilla, sebuah upaya kolektif untuk menyalurkan bantuan ke warga Palestina.
Rute yang ditempuh para relawan ini tidak biasa dan penuh tantangan. Mereka dijadwalkan terbang menuju Tripoli, Libya, sebelum memulai perjalanan darat panjang yang akan melintasi daratan Mesir hingga tiba di pintu gerbang Rafah. Jalur ini dipilih sebagai alternatif strategis untuk memastikan bantuan medis dan kebutuhan teknis esensial dapat menjangkau warga Gaza yang hingga kini masih menghadapi isolasi.
Ziyad, selaku Dewan Pengarah GPCI, menekankan pentingnya misi ini. “Perjalanan ini bukan sekadar melintasi batas-batas negara. Ini adalah ikhtiar kolektif masyarakat sipil dunia untuk hadir langsung memberi kepedulian,” ujarnya saat ditemui di sela agenda pelepasan. Ia juga menambahkan bahwa timnya tengah berkoordinasi intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Mesir. Koordinasi ini bertujuan untuk memastikan misi kemanusiaan ke Gaza mendapatkan payung hukum dan keamanan yang memadai saat memasuki wilayah konflik.
Pemilihan Surabaya sebagai lokasi pelepasan relawan membawa pesan tersendiri. Selama ini, gerakan solidaritas besar seringkali terpusat di Jakarta. Dengan melibatkan relawan asal Jawa Timur, diharapkan gelombang dukungan moral dan bantuan untuk Gaza dapat tumbuh lebih merata di wilayah timur Indonesia.
Ziyad menjelaskan bahwa aksi lapangan melalui land convoy ini melengkapi jalur laut yang sebelumnya sudah bertolak dari Barcelona, Spanyol, sejak April lalu. Baginya, setiap individu memiliki peran masing-masing dalam membantu, baik melalui tenaga di lapangan maupun dukungan doa dari rumah. Misi kemanusiaan ke Gaza lewat jalur darat ini direncanakan tetap memegang teguh prinsip perdamaian dan koordinasi lintas negara. Keberangkatan enam relawan ini menjadi simbol nyata bahwa Indonesia tidak tinggal diam dan terus mencari celah terkecil sekalipun demi mengetuk pintu kemanusiaan di tanah Palestina.
