Sebuah unggahan sederhana dari konten kreator Artiyan Angeliza yang mengungkapkan kebanggaan atas masa lalunya sebagai sarjana berprestasi, kini berujung pada polemik dan protes di media sosial. Insiden ini memicu gelombang dukungan luas dari warganet, terutama dari kalangan ibu rumah tangga (IRT) berpendidikan tinggi.

Konten Kebanggaan yang Berujung Protes Dosen

Artiyan Angeliza, seorang konten kreator sekaligus ibu rumah tangga, mendadak menjadi perbincangan setelah menerima pesan langsung (DM) dari seseorang yang mengaku sebagai dosen di almamaternya. Pesan tersebut meminta Artiyan untuk menurunkan konten yang ia unggah.

Dalam konten awalnya, Artiyan mengekspresikan kebahagiaan dan kebanggaan atas pencapaian akademisnya di masa lalu. Ia menyebut dirinya sebagai lulusan cumlaude dari salah satu fakultas di universitas negeri ternama di Semarang. Pesan yang ingin disampaikannya sederhana: meskipun kini memilih peran sebagai kreator konten IRT, latar belakang pendidikan tingginya adalah bagian dari perjalanan hidup yang ia hargai.

Namun, kebanggaan tersebut mendapat respons tak terduga. Seorang pria yang mengaku sebagai dosen di kampus tersebut mengirimkan pesan melalui Instagram. Dalam percakapan yang kemudian dibagikan Artiyan, pria tersebut mempertanyakan konten yang “membawa-bawa” nama fakultas (FH) dan almamater.

Intinya, dosen tersebut menyarankan agar Artiyan menghapus kontennya karena dinilai merendahkan citra kampus dan berpotensi berdampak pada lulusan lainnya. Dengan sikap kooperatif, Artiyan segera menurunkan konten yang dimaksud.

Meski demikian, ia membagikan seluruh kronologi kejadian tersebut kepada pengikutnya, disertai permintaan maaf dan klarifikasi. “Maafin ya. Aku cuma bangga aja pernah kuliah disini. Enggak ada maksud buat jelekin universitas sama sekali. Kalau di masa depan aku ada bikin kesalahan juga bukan salah tempat yg pernah aku datangi,” tulis Artiyan.

Ia melanjutkan, “Tapi aku seneng bacain komentar kalian semua para ibu-ibu yang pada bangga dengan pilihan hidup kalian saat ini. Semangat ibu-ibu IRT. Walaupun kadang impianmu tidak selalu sesuai rencana tapi harus tetep bangga ya jadi IRT.”

Dalam percakapan tersebut, sang dosen juga mengapresiasi konten Artiyan secara umum. Namun, ia meminta pertimbangan untuk tidak menyebut nama almamater secara spesifik karena dikhawatirkan memiliki dampak luas bagi institusi. Percakapan diakhiri sang dosen dengan kalimat, “Sukses selalu ya, IRT juga sebuah pilihan yg keren.”

Gelombang Dukungan untuk Artiyan dan Kritik untuk Kampus

Insiden ini segera memicu gelombang komentar luas dari netizen. Mayoritas menyatakan dukungan dan empati terhadap Artiyan, sekaligus menyayangkan sikap pihak kampus. Banyak komentar menekankan bahwa menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah kemunduran atau aib, terlepas dari latar belakang pendidikan apapun.

  • “Gak pernah se-nyes-nyes ini, hina banget emangnya cumlaude trus jadi IRT? 😂 Aku sumpahin kamu jadi sekaya-kayanya mbak!” tulis seorang netizen.
  • “Cumlaude UI dan sekarang aku jadi IRT juga. Alhamdulillah bisa jadi IRT yang tetep bisa produktif dari rumah. Bisa menginspirasi banyak orang,” ujar netizen lainnya.
  • “Mbak, aku juga lulusan kampus itu tapi beda fakultas. Kamu yang jadi konten kreator digituin, apalagi profesiku sekarang yang jadi pedagang ayam potong… Gak ada salahnya kan, IRT/pedagang dsb lulusan kampus terbaik?” tambah warganet lain.

Komunitas ibu rumah tangga berpendidikan tinggi tampak tersentuh dan merasa terwakili oleh konten Artiyan. Mereka melihat kisahnya bukan sebagai perendahan citra kampus, melainkan sebagai penyemangat bahwa ilmu dan prestasi akademis dapat diaplikasikan dalam berbagai bentuk kehidupan, termasuk dalam mendidik keluarga dan membangun konten positif.