Orang dewasa yang pernah menerima vaksinasi campak saat kecil tetap berisiko terinfeksi penyakit campak. Kekebalan tubuh yang menurun seiring bertambahnya usia menjadi salah satu faktor utama penyebabnya, bahkan dapat memicu gejala lebih berat bagi yang tidak memiliki kekebalan tubuh.
Hal ini diungkapkan oleh dr. Erpryta Nurdia Tetrasiwi, dokter spesialis penyakit dalam dari Eka Hospital MT Haryono, pada Kamis (30/4/2026).
Dalam keterangannya yang diterima di Tangerang, dr. Erpryta menjelaskan bahwa kekebalan tubuh yang diperoleh dari vaksinasi saat kecil dapat menurun seiring waktu. Jika antibodi turun di bawah ambang batas perlindungan, tubuh akan kembali rentan terhadap infeksi.
Selain itu, dosis vaksinasi yang tidak lengkap pada dekade sebelumnya juga menjadi penyebab. Penelitian medis terkini menunjukkan bahwa dua dosis vaksin Measles, Mumps, Rubella (MMR) diperlukan untuk mencapai tingkat perlindungan hingga 97 persen.
dr. Erpryta menambahkan, faktor lain yang membuat orang dewasa rentan kembali terkena campak adalah sifat virus yang sangat menular. “Sebab, campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia. Virus ini dapat bertahan di udara hingga dua jam setelah orang yang terinfeksi meninggalkan ruangan. Tanpa perlindungan imun, penularan di tempat kerja atau transportasi umum sangat tinggi,” ujarnya.
Berbeda dengan anak-anak yang umumnya pulih dalam satu hingga dua minggu, kasus campak pada orang dewasa sering kali disertai komplikasi sistemik. Virus campak tidak hanya menyebabkan ruam kulit, tetapi juga menyerang sistem pertahanan tubuh secara keseluruhan, memicu berbagai kondisi serius seperti pneumonia berat, radang otak, komplikasi jantung, dan kebutaan.
Untuk mencegah infeksi campak pada orang dewasa, vaksinasi MMR sangat dianjurkan. Vaksin ini tidak hanya melindungi dari campak, tetapi juga gondongan dan campak Jerman (rubella).
dr. Erpryta menekankan, “Vaksinasi pada usia dewasa berfungsi sebagai pengingat bagi sistem imun. Apalagi, kalau belum pernah menerima vaksin campak di masa kecil, bisa mendapatkan dosis tambahan sesuai anjuran dokter spesialis penyakit dalam.”
Bagi wanita yang berencana hamil, vaksinasi MMR menjadi krusial. Campak dan rubella selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, hingga kecacatan bawaan pada bayi. Vaksinasi MMR harus dilakukan setidaknya satu bulan sebelum memulai program kehamilan.
Melakukan vaksinasi saat ini merupakan investasi kesehatan jangka panjang untuk menghindari rawat inap yang mahal dan komplikasi permanen. Selain vaksinasi, dr. Erpryta juga mengingatkan pentingnya menjaga imunitas tubuh dan menghindari kontak dengan individu yang menunjukkan gejala demam dan ruam, terutama selama masa wabah.
