Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim membeberkan langkah-langkah pemerintahannya dalam mengantisipasi dan menanggulangi dampak krisis akibat perang di Timur Tengah. Selain itu, ia juga mengulas pertemuannya dengan Presiden RI Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut disampaikan Anwar Ibrahim dalam sambutannya pada acara Program Madani Rakyat Perak 2026 di Ipoh, Negeri Perak, Malaysia, Sabtu (4/4/2026). Ia menyinggung adanya pihak-pihak yang dinilainya meremehkan upaya tulus pemerintah.
“Kita di sini selalu marah, berteriak, membenci, tidak berpikir seolah-olah kita punya masalah, dan pemerintah tidak melakukan apa-apa,” kata Anwar Ibrahim.
Anwar Ibrahim menegaskan, sejak awal serangan Israel – dengan bantuan Amerika Serikat – ke Iran, Malaysia sebagai negara berdaulat menjadi salah satu negara yang berani mengeluarkan pernyataan protes. Malaysia menolak tegas serangan tersebut.
“Malaysia ini negara merdeka, yang menjunjung tinggi negara merdeka, dan berdaulat. Tidak terikat, tidak tunduk pada kekuatan asing mana pun. Itulah mengapa saya mengajukan mosi di parlemen, meminta anggota parlemen untuk menyatakan dengan tegas bahwa Malaysia menolak serangan Israel dan Amerika terhadap Iran,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat situasi perang semakin berlarut-larut, pemerintah Malaysia setiap hari melakukan pertemuan intensif. Diskusi melibatkan perusahaan minyak Petronas, para ahli ekonomi, hingga sambungan telepon dengan sejumlah pemimpin negara sahabat.
Anwar Ibrahim menyebut telah menghubungi sejumlah koleganya, para pemimpin negara-negara di Timur Tengah, untuk membahas penyelesaian konflik. Kontak telepon dilakukan dengan pemimpin Mesir, negara-negara Teluk termasuk Turki dan Azerbaijan, serta negara-negara Arab dan Iran.
Menurutnya, apa yang terjadi di Selat Hormuz telah meningkatkan biaya di banyak negara. Ia mempertanyakan pihak-pihak yang tidak melihat upaya yang sedang dilakukan pemerintah.
“Saya juga bingung. Apa sebagian dari orang-orang kita tidak membaca? Mereka tidak mengikuti perkembangan dunia. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan negara-negara tetangga,” jelasnya.
Anwar mengulas bahwa di ASEAN, ada negara yang telah melakukan penjatahan minyak, menutup 400 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), hingga terpaksa memaksa para pekerja di sekitar kota untuk berjalan kaki ke kantor. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya dampak krisis.
Dalam upaya menanggulangi dampak perang di Timur Tengah, Anwar Ibrahim bahkan harus terbang ke Jakarta untuk menemui Presiden RI Prabowo Subianto beberapa waktu lalu. Pertemuan tersebut terjadi pada Jumat (27/3/2026) di Istana Merdeka Jakarta.
“Saya harus terbang selama beberapa jam untuk berbicara dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Karena sebelumnya, beliau datang menemui saya 4-5 kali. Saya pikir tidak sesuai bagi saya, kalau hanya beliau yang datang ke sini. Saya bahkan tidak membalas kunjungannya. Jadi saya pergi. Penerbangan 2 setengah jam, 35 menit ke Istana Kepresidenan, duduk dan berbicara selama 2 jam, lalu kembali ke Kuala Lumpur,” terang Anwar.
Lebih jauh, ia meminta semua pihak untuk belajar bersyukur dan bersabar dalam menghadapi masalah dampak perang di Timur Tengah. Anwar menyatakan tidak mempersoalkan jika ada orang yang mengkritik atau memakinya, namun ia meminta tidak ada pihak yang mengganggu pekerjaan pemerintah dalam mengantisipasi krisis dan membantu meringankan beban rakyat.
