Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu akan segera menerapkan program “Ramadhan Ramah Lingkungan” dan diet plastik di ibu kota Sulawesi Tengah. Kebijakan ini merupakan langkah konkret pemerintah daerah untuk menekan timbulan sampah, khususnya selama bulan suci Ramadhan.

Inisiatif Pengendalian Sampah di Palu

Sekretaris DLH Kota Palu, Ibnu Mundzir, pada Jumat (20/2/2026) menjelaskan bahwa program ini akan ditindaklanjuti dengan surat edaran Wali Kota Palu. “Kebijakan ini ditindaklanjuti dengan surat edaran Wali Kota Palu untuk segera diterapkan di pasar takjil maupun tempat-tempat berpotensi menimbulkan sampah plastik,” kata Ibnu Mundzir di Palu.

Dalam program tersebut, ada empat poin penting yang menjadi fokus perhatian masyarakat. Pertama, pembatasan kemasan plastik dan styrofoam sekali pakai di pasar takjil. Kedua, masyarakat dianjurkan membawa wadah sendiri saat berbelanja guna menekan potensi penumpukan sampah plastik.

Poin ketiga, untuk rumah ibadah seperti masjid, jamaah saat buka puasa diimbau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Sebaiknya, mereka menggunakan wadah berupa piring maupun gelas yang dapat dicuci dan digunakan kembali. “Kalau pun menggunakan kemasan plastik, kami minta pengurus masjid melakukan pemilahan, supaya mudah proses sortir untuk selanjutnya diolah di TPS3R maupun bank sampah. Aturan itu dituangkan ke dalam surat edaran Wali Kota,” ujar Ibnu Mundzir.

Tantangan dan Data Timbulan Sampah

Ibnu Mundzir menambahkan, Kota Palu saat ini memang gencar melakukan pembatasan penggunaan kemasan plastik sekali pakai di berbagai sektor, mulai dari pusat perbelanjaan, pusat kuliner, perkantoran, hingga rumah tangga. Selain itu, kebijakan selanjutnya juga akan menyasar pembatasan sampah makanan, mengingat beberapa tahun terakhir momen puasa justru menyumbang cukup banyak sampah jenis ini.

Berdasarkan data DLH Palu, rata-rata timbulan sampah di ibu kota Sulawesi Tengah mencapai 170 ton per hari. Dari jumlah tersebut, 71 persen di antaranya merupakan sisa makanan, 11 persen sampah plastik, dan sisanya adalah logam serta jenis sampah lain.

“Kami terus berbenah di bidang kebersihan, karena Palu saat ini sedang gencar menata kawasan perkotaan supaya daerah ini lebih tertib, nyaman, aman dikunjungi semua orang dan memiliki nilai estetika yang baik,” tegas Ibnu Mundzir.

Ia menandaskan, mengubah kebiasaan masyarakat untuk tertib membuang sampah dan hidup bersih tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Diperlukan keterlibatan semua pihak agar kesadaran tersebut semakin tumbuh hingga menjadi budaya. “Kebijakan diambil Pemkot Palu tidak lain untuk kemajuan daerah di masa depan,” pungkasnya.