Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Tulungagung mengumumkan temuan puluhan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi di 12 kecamatan. Sejak pertengahan Januari 2026, total 59 ekor sapi potong terjangkit PMK, mendorong Disnakeswan menggencarkan vaksinasi dan disinfeksi untuk menekan penyebaran penyakit yang dipicu faktor cuaca dan lalu lintas ternak.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakeswan Tulungagung, Tutus Sumaryani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu dengan curah hujan tinggi selama awal tahun 2026 membuat hewan ternak rentan terjangkit penyakit. “Kami telah menerima laporan dari peternak, bahwa kasus PMK kembali muncul di Tulungagung sejak pertengahan Januari 2026,” ujar Tutus pada Rabu (4/2/2026).

Data Disnakeswan menunjukkan, dari 19 kecamatan di Kabupaten Tulungagung, penyebaran kasus PMK telah ditemukan di 12 kecamatan. Kecamatan Ngantru dan Rejotangan menjadi wilayah dengan temuan kasus PMK terbanyak. Sejauh ini, kasus PMK hanya teridentifikasi pada sapi potong dan belum ditemukan pada hewan ternak kambing.

Tutus menduga, kemunculan kembali kasus PMK di Tulungagung salah satunya disebabkan oleh masuknya ternak baru dari luar daerah. “Penularan PMK diduga karena ternak baru dari luar yang kemungkinan belum mendapatkan vaksinasi,” paparnya.

Meskipun demikian, beberapa dari 59 ternak yang terjangkit PMK diketahui sudah mendapatkan vaksinasi dari Disnakeswan Tulungagung. Hewan-hewan yang telah divaksinasi tersebut menunjukkan proses penyembuhan yang lebih cepat.

Menyikapi temuan ini, Disnakeswan Tulungagung berkomitmen untuk menggencarkan kembali program vaksinasi dan melakukan langkah pencegahan. Salah satunya adalah disinfeksi di pasar hewan serta peningkatan pengawasan lalu lintas hewan. “Kami akan melakukan disinfeksi sebelum dibuka pasar hewan. Kami juga meningkatkan pengawasan lalu lintas hewan di pasar hewan,” pungkas Tutus.