Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Jember bergerak cepat menangani kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang pelajar SMA berinisial F (15) yang videonya sempat terekam kamera dan beredar luas. Insiden tragis ini juga melibatkan tindakan penelanjangan korban oleh para terduga pelaku.
Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Sosial PPPA Jember, Sugeng Riyadi, menyatakan bahwa pihaknya telah mengutus petugas dan pekerja sosial (peksos) untuk memberikan pendampingan komprehensif. Pendampingan ini tidak hanya diberikan kepada korban, tetapi juga kepada para terduga pelaku, mengingat seluruh pihak yang terlibat masih berstatus anak-anak.
“Beberapa terduga pelaku ada yang dari SMA dan ada yang dari SMP. Namun hingga saat ini, UPT PPPA bersama peksos terus melakukan pendampingan. Berdasarkan informasi di Polsek, para pelaku tidak berasal dari sekolah yang sama dengan korban, yakni SMA Ma’arif,” terang Sugeng pada Kamis (2/4/2026).
Sugeng menambahkan, dari sepuluh terduga pelaku yang diduga terlibat dalam pengeroyokan dan penelanjangan korban, tidak ada satu pun yang berasal dari sekolah yang sama dengan F. “Salah satunya ada yang masih SMP,” ungkapnya. Oleh karena itu, Dinsos PPPA Jember juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Jember dan Cabang Dinas (Cabdin) Jawa Timur Wilayah Jember untuk penanganan lebih lanjut.
Mengingat status semua pihak sebagai pelajar, Dinsos PPPA Jember menekankan pentingnya pendampingan dan perlindungan. “Pendampingan diberikan kepada korban dan juga para pelaku,” tegas Sugeng.
Hingga Kamis sore, Sugeng mengaku belum mendapatkan informasi pasti mengenai jumlah anak yang telah menjalani pemeriksaan di Polsek Jombang. Petugas Dinsos PPPA masih dalam perjalanan kembali setelah mendatangi korban dan para terduga pelaku. “Besok kami rencanakan akan ke sana untuk memastikan pendampingan bagi korban maupun para terduga pelaku,” jelas Sugeng, merujuk pada kunjungan yang akan dilakukan pada Jumat (3/4/2026).
Terkait motif pengeroyokan, informasi awal menyebutkan bahwa salah satu terduga pelaku merasa tidak terima atas kiriman pesan suara (voice note) dari ponsel korban yang dikirim oleh temannya. Sugeng juga menegaskan, “Informasinya, para pelaku bukan berasal dari sekolah korban, melainkan dari luar. Bahkan ada yang pernah satu SMP dengan korban, tetapi kini tidak lagi satu sekolah,” ujarnya.
Kondisi F, korban pengeroyokan, saat ini belum memungkinkan untuk kembali bersekolah. Ia masih mengalami luka ringan berupa lebam dan trauma psikis. “Masih ada sedikit lebam, tidak sampai parah. Namun tetap ada bekas luka dan kemungkinan trauma,” papar Sugeng.
Dinsos PPPA Jember berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan kepada F maupun para terduga pelaku demi memastikan hak-hak mereka sebagai anak terpenuhi. “Tadi sudah didampingi oleh tim kami, namun kami masih menunggu informasi lebih lanjut,” pungkas Sugeng.
