Malam Lailatul Qadar, sebuah misteri yang sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT, kembali menjadi sorotan di sepuluh hari terakhir Ramadan. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi-Nya untuk menetapkan tanggal pasti malam istimewa itu. Namun, kerahasiaan ini justru memicu jutaan umat Islam di seluruh dunia untuk meningkatkan ibadah, memenuhi masjid-masjid seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, serta masjid-masjid di Indonesia, dengan harapan dapat menjemput malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Ulul Albab, menyoroti fenomena ini. Menurutnya, kerahasiaan Lailatul Qadar adalah ‘diskon besar-besaran’ dari Allah. “Kalau dihitung kasar, seribu bulan itu sekitar delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam saja bisa lebih bernilai daripada hampir seluruh umur manusia. Bayangkan. Delapan puluh tahun ibadah diringkas menjadi satu malam. Allah seperti memberi diskon besar-besaran kepada manusia,” ujarnya.

Rasulullah SAW sendiri tidak pernah bersikap santai menghadapi sepuluh malam terakhir Ramadan. Banyak riwayat menyebutkan bahwa beliau menghidupkan malam-malam itu dengan ibadah dan membangunkan keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukanlah malam biasa, melainkan malam yang berpotensi menentukan arah hidup seseorang.

Pada malam ini, Jumat, 13 Maret 2026, kita memasuki malam ke-23 Ramadan. Banyak ulama menyebut malam ganjil di sepuluh hari terakhir sebagai waktu yang sangat mungkin menjadi Lailatul Qadar, apalagi jika bertepatan dengan malam Jumat. Namun, Ulul Albab menekankan bahwa pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Apakah malam ini Lailatul Qadar?” melainkan “Jika benar malam ini Lailatul Qadar, apakah kita siap menyambutnya?”

Kesiapan diri menjadi kunci utama. Lailatul Qadar, menurut Ulul Albab, bukanlah sekadar perburuan pahala besar, melainkan pencarian kedekatan dengan Allah. “Lailatul Qadar bukan pesta langit, tetapi pertemuan istimewa antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak perlu acara besar. Tidak perlu ritual yang rumit. Yang diperlukan adalah hati yang datang dengan tulus,” jelasnya.

Meskipun malam ini mungkin terlihat biasa saja, dengan langit dan suasana kota yang tak berbeda, bisa jadi pada malam inilah para malaikat turun membawa keberkahan yang tak kasat mata. Al-Qur’an menggambarkannya dengan indah dalam QS. Al-Qadr ayat 5:

“Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Oleh karena itu, tidak perlu menunggu sempurna untuk beribadah. Ibadah dapat dimulai dengan yang sederhana sesuai kemampuan. Misalnya, shalat dua rakaat dengan khusyuk, membaca beberapa ayat Al-Qur’an dengan hati yang hadir, memperbanyak istighfar, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Ini adalah kesempatan untuk menyampaikan doa-doa lama, kegelisahan yang terpendam, atau harapan yang hampir terlupakan, karena pada malam ini pintu rahmat Allah bisa jadi terbuka lebih luas.

Ulul Albab mengingatkan agar tidak melewatkan malam-malam berharga ini dengan kesibukan layar ponsel atau tidur terlalu awal. Ia menyarankan untuk merencanakan aktivitas malam dengan baik. “Jika memang harus tidur sejenak, tidurlah sekitar pukul 22.00 dengan niat dan meminta dibangunkan Allah pada pukul 01.00 agar kita bisa beribadah dan bermunajat dengan leluasa hingga fajar,” sarannya.

Doa Lailatul Qadar yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA, istri tercinta beliau, juga menjadi panduan penting:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Siapa tahu, malam ini adalah malam yang selama ini dicari, malam ketika Allah memperbaiki hidup, menjawab doa-doa lama, dan mengembalikan kedamaian hati.