Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) mengambil langkah inovatif dalam mempromosikan pariwisata berbasis kebudayaan dengan memproduksi film pendek berjudul Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani. Film ini secara khusus mengangkat legenda Putri Mandalika, figur sentral dalam tradisi masyarakat Sasak.
Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia, menjelaskan bahwa produksi film ini bertujuan untuk memperluas jangkauan promosi kebudayaan Sasak. “Tujuan utama fim ini adalah untuk promosi kebudayaan Sasak yang ritualnya dilaksanakan setahun sekali dalam gelaran event Bau Nyale. Akan sayang sekali saat kita punya budaya yang baik tapi tidak bisa kita manfaatkan untuk jangkauan yang lebih luas,” ujar Ahmad Nur Aulia pada Sabtu (14/2/2026).
Film pendek tersebut telah diputar dalam acara Culture Night Of Mandalika Bau Nyale Short Movie Screening, yang merupakan bagian dari rangkaian festival tahunan Bau Nyale. Acara pemutaran ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.
Ahmad Nur Aulia menambahkan, Bau Nyale merupakan aset budaya NTB yang memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. “Bau Nyale menjadi salah satu aset kekayaan budaya NTB yang menarik disajikan ke wisatawan domestik dan mancanegara. Karenanya film ini dilayarkan sebelum ritual Bau Nyale pada malam puncak festival Bau Nyale,” imbuhnya.
Mengenal Lebih Dekat Legenda Putri Mandalika dan Tradisi Bau Nyale
Budayawan Sasak, Lalu Agus Fathurrahman, memberikan penjelasan mendalam mengenai tradisi Bau Nyale. Menurutnya, Bau Nyale adalah tradisi masyarakat pesisir Selatan Lombok yang berarti ‘menangkap nyale’. Nyale sendiri adalah cacing laut berwarna-warni yang muncul secara musiman di pesisir pantai Lombok.
Masyarakat setempat meyakini bahwa nyale merupakan jelmaan dari Putri Mandalika, seorang putri legendaris yang memilih melarungkan dirinya ke laut. Lalu Agus Fathurrahman mengisahkan, “Nyale sebenarnya sudah ada sejak dulu kala, kemudian Putri Mandalika memberikan petunjuk kepada pangeran-pangeran yang ingin menikahinya, bahwa ada berkah lebih besar daripada memperebutkan dirinya. Akhirnya dia meminta pangeran-pangeran itu datang ke Pantai Seger pada 20 bulan 10 di penanggalan Sasak dan dia pergi menghilang. Itulah khazanah ilmu pengetahuan yang ditinggalkan Mandalika,” jelasnya.
Dengan mengangkat kisah ini melalui medium film, Dinas Pariwisata NTB berharap dapat memperkenalkan kekayaan budaya dan legenda lokal kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus menarik minat wisatawan untuk datang dan merasakan langsung pengalaman festival Bau Nyale.
