Garis dan warna bukan sekadar elemen visual bagi Audrey, melainkan jembatan utama untuk berkomunikasi dengan dunia. Murid kelas 6 SD Cikal Serpong ini telah membuktikan bahwa diagnosis anak berkebutuhan khusus bukanlah penghalang untuk melahirkan karya-karya komersial yang memukau.

Dengan jemarinya yang terampil, karakter populer seperti Chutki bertransformasi, mengenakan Kebaya Encim yang anggun dan penuh detail. Bagi Audrey, aktivitas menggambar jauh melampaui sekadar mengisi waktu luang. Ia menjadikannya sebagai katarsis, sebuah cara ampuh untuk mengurai benang kusut emosi yang seringkali sulit ia sampaikan secara verbal.

Seni sebagai Jembatan Ekspresi Emosi

“Aku suka sekali menggambar untuk mengekspresikan hal yang aku suka. Saat sedih, aku tuangkan apa yang membuatku sedih ke kertas. Begitu juga saat senang, aku gambar karakter yang aku ingat,” ujar Audrey dalam siaran tertulisnya, Jumat (06/3/2026).

Kreativitas Audrey mencapai puncaknya ketika ia bersentuhan dengan program Social Studies Functional di sekolahnya. Ketertarikannya yang mendalam pada kontras warna Kebaya Encim kemudian membawanya pada sebuah proyek desain yang serius dan penuh makna. Ia tidak hanya menuangkan idenya di atas kertas, namun juga mengaplikasikan kreasinya ke berbagai produk gaya hidup yang fungsional dan estetis.

Dalam pameran Assembly Year 6, Audrey dengan bangga meluncurkan lini produk bertema Betawi. Berbagai item seperti tas, knot bag, outer, hingga lanyard hasil desainnya dipamerkan dan dijual kepada publik. Proses ini secara langsung melatih sisi tanggung jawab dan komitmennya untuk menyelesaikan sebuah proyek, mulai dari ide awal hingga menjadi barang jadi yang siap dipasarkan.

“Saat menggambar, aku belajar fokus dan menyelesaikan tanggung jawab. Aku juga jadi lebih kreatif, misalnya mengubah karakter Spongebob menjadi versi perempuan,” tambahnya, menunjukkan bagaimana seni telah mengasah kemampuan adaptasi dan inovasinya.

Dukungan Ekosistem Sekolah yang Inklusif

Keberanian Audrey untuk tampil dan mengeksplorasi bakatnya tidak lepas dari ekosistem yang sangat mendukung di SD Cikal Serpong. Ia merasa diterima tanpa syarat, sebuah lingkungan yang membuatnya nyaman untuk mengeksplorasi bakat-bakat lain, termasuk menari. Audrey juga menyebut bahwa pola belajar Challenging Choices yang diterapkan sekolah membantunya tetap tangguh, bahkan saat harus menghadapi situasi yang tidak selalu ia sukai setiap hari.

Awi, Homeroom Kelas 6 SD Cikal Serpong, menjadi saksi langsung transformasi besar pada diri anak didiknya selama dua tahun terakhir. Menurutnya, perkembangan Audrey dalam mengelola emosi dan fleksibilitas sosial sangat signifikan dan patut diapresiasi.

“Audrey kini jauh lebih mampu mengontrol diri. Dia anak yang periang, penyayang, dan punya selera seni yang sangat kuat. Fokusnya sangat tinggi saat sedang berkarya,” ungkap Awi, menggambarkan sosok Audrey yang kini lebih mandiri dan ekspresif.

Awi menambahkan, kemampuan Audrey dalam menghafal pola dan jadwal juga meningkat pesat. Peningkatan ini memudahkan Audrey untuk membaur dalam berbagai kegiatan sekolah di luar rutinitas harian. Hal ini membuktikan bahwa ruang yang suportif dan inklusif adalah kunci utama bagi anak berkebutuhan khusus untuk bersinar dengan caranya sendiri, menemukan potensi tersembunyi, dan menginspirasi banyak orang.

sumber gambar: jatimnow.com