Eskalasi konflik antara Israel dan Iran kini mulai memberikan tekanan signifikan pada industri perjalanan global. Meskipun secara geografis Indonesia jauh dari pusat ketegangan, sektor pariwisata Tanah Air kini menghadapi ancaman serius berupa potensi penurunan jumlah wisatawan mancanegara. Hal ini dipicu oleh membengkaknya biaya transportasi dan perubahan rute penerbangan yang tak terhindarkan.
Dosen Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Surabaya (Ubaya), Prita Ayu Kusumawardhany, pada Sabtu (14/3/2026) di Surabaya, memaparkan lima risiko utama yang kini menghantui sektor pariwisata Indonesia. Risiko-risiko tersebut meliputi gangguan keamanan, terbatasnya aksesibilitas, trauma psikologis pelancong, merosotnya citra destinasi Timur Tengah, serta lonjakan harga tiket pesawat yang signifikan.
Menyikapi kondisi ini, Prita menekankan perlunya respons cepat dari pemerintah. “Kita tidak bisa diam melihat lonjakan biaya perjalanan ini. Pemerintah perlu bergerak cepat mempromosikan Indonesia sebagai destinasi yang stabil melalui kampanye digital yang masif,” ujar Prita.
Ia mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk segera memberikan stimulus nyata bagi industri pariwisata lokal. Salah satu langkah berani yang ia usulkan adalah pemberian subsidi tiket untuk perjalanan domestik. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga pergerakan wisatawan di dalam negeri di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, Prita menyarankan para pelaku usaha pariwisata untuk tidak lagi hanya mengandalkan wisatawan jarak jauh (long-haul) yang sangat sensitif terhadap isu bahan bakar pesawat. Ia menggarisbawahi pentingnya strategi diversifikasi pasar.
“Saatnya memperkuat kerja sama dengan maskapai internasional untuk menggaet turis jarak dekat (short-haul traveler). Strategi dual market harus diterapkan. Pelaku usaha sebaiknya mengalokasikan 60 hingga 70 persen energi mereka untuk menggarap pasar domestik dan regional Asia,” tambahnya.
Aspek keamanan juga menjadi prioritas utama di tengah situasi konflik. Prita merekomendasikan penggunaan sistem pemantauan berbasis teknologi di pusat-pusat keramaian, seperti Bali, guna memberikan rasa tenang dan aman bagi para pengunjung.
Dari sisi bisnis, Prita meminta agen perjalanan untuk lebih fleksibel dalam menyusun penawaran. Menurutnya, promosi yang menyertakan garansi uang kembali atau jadwal yang fleksibel akan lebih menarik perhatian calon wisatawan yang masih ragu untuk bepergian.
Prita juga mengingatkan pentingnya pemantauan informasi terkini. “Pantau terus pembaruan dari IATA dan maskapai untuk mengevaluasi risiko penerbangan secara real-time. Keputusan bisnis harus diambil berdasarkan data terbaru agar arus kas perusahaan tetap terjaga di tengah kondisi yang fluktuatif ini,” tutupnya.
