Bagi Profesor Bhakti Stephan Onggo, barisan kode dan algoritma simulasi bukan sekadar deret angka teknis. Di tangan profesor Business Analytics dari University of Southampton, Inggris, teknologi menjelma menjadi instrumen kemanusiaan yang berdaya guna.
Melalui inovasi digital twins, alumnus Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini tengah merancang ulang masa depan mitigasi bencana di Indonesia. Pendekatan ini dirancang agar lebih adaptif dan berpihak pada kaum rentan.
Perjalanan Akademik dan Inovasi Digital Twins
Lahir di Probolinggo pada tahun 1970, perjalanan akademik Bhakti dimulai di tengah keterbatasan fasilitas kampus ITS pada tahun 1989. Kondisi tersebut justru menempa mentalitas ulet dan mandiri pria yang kini menjadi diaspora sukses di Inggris Raya.
Setelah menuntaskan studi di Lancaster University dan meraih gelar doktoral di National University of Singapore (NUS), Bhakti membangun reputasi global sebagai pakar simulasi. Meski berkarier di mancanegara, ia enggan memutus akar dengan tanah airnya.
Berkolaborasi dengan Departemen Teknik Geomatika dan Pusat Penelitian MKPI ITS, Bhakti mengembangkan teknologi digital twins. Ini adalah representasi digital dari sistem nyata yang terhubung secara real-time.
“Kita berusaha menyelamatkan penyintas bencana secepat mungkin dan sebanyak-banyaknya,” tegas Bhakti, menjelaskan misi utama di balik pengembangan teknologi ini.
Fokus pada Kaum Rentan dan Optimalisasi Bantuan
Perbedaan mendasar inovasi digital twins ini terletak pada fokusnya yang dinamis. Jika simulasi konvensional cenderung statis, digital twins memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan secara dinamis berdasarkan perubahan kondisi lapangan dalam hitungan detik.
Fokus utamanya sangat spesifik, yakni penyelamatan populasi rentan seperti ibu hamil dan anak-anak. Selain itu, teknologi ini juga bertujuan untuk optimalisasi distribusi bantuan logistik.
Dengan mengintegrasikan digital twins ke dalam metodologi simulasi, para pengambil kebijakan dapat memprediksi situasi dengan akurasi tinggi. Mereka juga mampu mengevaluasi berbagai skenario darurat, hingga mengalokasikan fasilitas medis secara tepat di tengah ketidakpastian bencana.
Pentingnya Berpikir Kritis dan Kualitas Mahasiswa
Selain aspek teknis, Bhakti menekankan bahwa pendidikan di ITS memberinya fondasi berpikir kritis. Menurutnya, kemampuan mengkritisi informasi bukan hanya berguna untuk riset, melainkan juga menjadi senjata utama menghadapi era hoaks.
Kiprah Bhakti kini menjadi bukti nyata bagaimana sains bisa bersinergi dengan empati. Melalui pengembangan teknologi yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), ia mengingatkan satu hal fundamental bagi generasi penerus.
“Fasilitas memang bagus, tetapi pada akhirnya kualitas mahasiswa yang akan menentukan,” tutup penghobi kuliner ini.
