Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal kembali menggelar Seri Kajian Ramadan ke-3 bertajuk “Ramadan on Campus” pada Jumat (13/3) lalu. Acara yang berlangsung di aula kampus Mataram UHN ini mengangkat tema “Memperkokoh Peran Kampus dalam Konsolidasi Civil Society untuk Menjaga Demokrasi” dan menghadirkan jurnalis senior Budiman Tanuredjo sebagai narasumber utama.

Kampus sebagai Penentu Kualitas Demokrasi

Dalam paparannya, Budiman Tanuredjo menyoroti peran krusial kampus dalam membentuk kepemimpinan publik yang berintegritas, khususnya menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia pada tahun 2045. Ia menekankan bahwa generasi yang kini menempuh pendidikan tinggi akan menjadi penentu kualitas demokrasi Indonesia di masa depan.

“Generasi pendiri republik lahir dari krisis. Generasi Indonesia 2045 lahir dari kampus hari ini. Pertanyaannya, apakah mereka akan menjadi politisi biasa atau negarawan,” ujar Budiman, melalui keterangan resmi yang diterima pada Jumat (13/3).

Budiman berpandangan bahwa seorang negarawan tidak lahir dari zona nyaman, melainkan dari kegelisahan intelektual dan keberanian moral untuk memperjuangkan nilai-nilai demokrasi. Oleh karena itu, kampus harus menjadi ruang yang memelihara tradisi berpikir kritis dan diskusi yang sehat.

Ia juga mengingatkan pentingnya penguatan berbagai institusi demokrasi, mulai dari supremasi hukum, meritokrasi dalam kepemimpinan, kaderisasi partai politik yang sehat, hingga mekanisme checks and balances yang kuat. “Kampus harus berani mengkritik kekuasaan tanpa menjadi partisan, menjadi suara nurani ketika hukum dilemahkan, dan membela prinsip, bukan figur,” tegas Budiman.

Komitmen UHN Tingkatkan Kualitas dan Perluas Jejaring

Rektor UHN, Sudirman Said, menegaskan komitmen kampusnya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat pembentukan karakter mahasiswa. Pihaknya bertekad membuktikan bahwa kampus di kota lapis kedua juga mampu menghadirkan pendidikan berkualitas tinggi.

“Kami di Harkat Negeri bertekad lebih sering menggunakan kata meskipun. Meskipun berada di kota second tier, kami percaya mutu pendidikan di sini akan menuju kelas satu,” ujar Sudirman Said.

Sudirman menjelaskan, UHN saat ini tengah diarahkan menjadi applied university yang menekankan penguatan keterampilan serta pengembangan soft skill mahasiswa. “Kami ingin menekan pengembangan soft skill. Ketika seseorang memiliki mental dan kemampuan interpersonal yang kuat, mereka akan mampu bertahan di mana pun,” jelas Sudirman Said.

Selain itu, UHN juga mulai memperluas jejaring akademik global. Beberapa rencana kerja sama yang sedang dijajaki antara lain pengembangan pendidikan kesehatan bersama Harvard Medical School serta kolaborasi akademik dengan Kyoto University melalui Prof. Okamoto dari Southeast Asian Studies.

Diskusi mengenai peran kampus dalam demokrasi ini, menurut Sudirman Said, juga mengingatkan kembali pemikiran Mohammad Hatta mengenai tanggung jawab moral kaum intelektual. Dalam bukunya Tanggung Djawab Moril Kaum Inteligensia, Hatta menegaskan bahwa kaum intelektual tidak boleh bersikap pasif terhadap persoalan bangsa. Seorang akademisi, menurutnya, memiliki tanggung jawab intelektual sekaligus moral karena ilmu pada akhirnya bertujuan mencari dan membela kebenaran.

Sudirman Said menambahkan, Hatta juga menekankan bahwa kaum intelegensia adalah bagian dari masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kehidupan bernegara, sehingga tidak dapat menyerahkan sepenuhnya urusan publik kepada mereka yang memegang kekuasaan.

“Melalui forum Ramadan on Campus ini, kami berharap kampus dapat terus menjadi ruang dialog kritis sekaligus tempat lahirnya pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral untuk menjaga demokrasi Indonesia,” pungkas mantan Menteri ESDM itu.