COO PT Krakatau Steel Tbk Sidik Darusulistyo menegaskan bahwa industri baja merupakan sektor strategis yang esensial dalam menjaga ketahanan nasional dan mendukung berbagai program pembangunan di Indonesia. Penegasan ini disampaikan Sidik dalam forum diskusi “Bridging the Landscape: Readiness Viability in Indonesia’s Net-Zero Steel Ecosystem” di SBM ITB Kampus Jakarta, Kamis (7/5/2026).

“Steel (baja) ini adalah industri strategis. Mother of industry, semuanya perlu steel. Dan ini sangat strategis bagi kita sebagai bangsa,” ujar Sidik, menyoroti peran fundamental baja dalam perekonomian.

Sidik menjelaskan, industri baja nasional saat ini menghadapi tantangan berat. Margin keuntungan yang relatif tipis dibandingkan sektor lain menjadi kendala, sementara kebutuhan modal kerja dan efisiensi operasional sangat besar. Ia menyebut, margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) industri baja hanya berkisar 5-7 persen, dengan laba bersih sekitar 3-5 persen.

Untuk itu, perusahaan harus menjaga efisiensi proses produksi dan mempercepat perputaran modal kerja. Krakatau Steel, menurut Sidik, kini fokus mempercepat cash conversion cycle, mengurangi persediaan barang, dan mengefisienkan seluruh lini operasi guna memperkuat profitabilitas.

“Cash conversion cycle kita itu saat ini masih di lima bulan, padahal targetnya di 3,5 bulan. Jadi sekarang kita streamline process, kurangi inventory, kurangi work in progress,” paparnya.

Selain efisiensi internal, Sidik menilai industri baja nasional juga membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan. Dukungan ini termasuk dari pemerintah terkait kebijakan dan lembaga pendidikan yang berkaitan dengan riset dan teknologi, agar mampu bersaing dengan produk impor, khususnya dari China.

Konsumsi baja dunia mencapai sekitar 1,8 miliar ton per tahun, dengan sekitar 1 miliar ton berasal dari China. Sementara itu, konsumsi Indonesia sekitar 10 juta ton dengan utilisasi industri domestik sekitar 42 persen. Namun, sekitar 25 persen konsumsi baja nasional masih dipenuhi oleh impor.

“Kalau baja China leak masuk ke Indonesia, bisa dibayangkan dampaknya. Hampir semua negara melakukan proteksi industri baja-nya karena ini industri strategis,” ungkap Sidik, menekankan pentingnya perlindungan pasar domestik.

Struktur biaya industri baja sangat dipengaruhi oleh harga bahan baku dan energi. Sidik mencontohkan, harga gas alam di China disebut berada di bawah 2 dolar AS per MMBTU, sedangkan di Indonesia dapat mencapai sekitar 6,5 dolar AS dan bahkan lebih tinggi ketika menggunakan LNG.

Oleh karena itu, Krakatau Steel aktif berkoordinasi dengan pemerintah, termasuk Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Komisi VI DPR RI, terkait penguatan perlindungan industri baja nasional. Industri baja juga memiliki keterkaitan langsung dengan sektor pertahanan dan proyek strategis nasional, sehingga ketergantungan impor dinilai dapat memengaruhi ketahanan nasional.

“Semua memiliki peran. Melindungi pasar baja domestik adalah strategi yang banyak dilakukan di dunia. Kalau kita tergantung impor, kalau kita tergantung yang lain maka ini membahayakan juga ketahanan nasional kita," tegasnya.

Lebih lanjut, Sidik menjelaskan bahwa Krakatau Steel saat ini memperkuat kolaborasi dengan sejumlah BUMN strategis seperti PT PAL Indonesia, PT Pindad, dan PT INKA untuk mendukung pengembangan industri nasional. Selain itu, Krakatau Steel juga bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam pengembangan kapal nelayan berbahan baja.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada awal April 2026 telah menekankan pentingnya penguatan struktur industri baja nasional. Kementerian Perindustrian juga menyiapkan berbagai langkah penguatan industri tersebut, termasuk pengendalian impor, pemberlakuan SNI wajib, serta kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) untuk meningkatkan daya saing industri domestik.