Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi potensi bencana banjir susulan. Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk segera melakukan normalisasi sungai di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, menyusul banjir bandang yang terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026 dini hari.

Langkah normalisasi ini menjadi prioritas utama demi menjaga keamanan warga yang bermukim di sekitar bantaran sungai. Bupati Rizal Intjenae menegaskan urgensi tindakan tersebut.

“Saya sudah perintahkan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) segera melakukan normalisasi sungai di bagian atas perkampungan sekaligus membuat jalur aliran air agar lebih aman bagi warga di Desa Mataue,” kata Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae di Kulawi pada Minggu (24/5/2026).

Banjir bandang pekan lalu menyebabkan terputusnya satu jembatan penghubung vital dari Desa Bolapapu Dusun 1 menuju Desa Mataue Dusun 2. Kondisi ini sempat membuat akses jalan menuju Desa Mataue terputus dan wilayah tersebut terisolasi.

Bupati Rizal Intjenae menjelaskan bahwa laporan yang masuk menunjukkan adanya ancaman serius terhadap pemukiman warga.

“Jadi, memang laporan yang masuk bahwa pinggir bantaran sungai sudah semakin dekat dengan pemukiman warga, sehingga perlu dilakukan normalisasi,” ucapnya.

Saat ini, sebagai solusi sementara, telah dibangun jembatan darurat menggunakan bambu yang memungkinkan masyarakat untuk melintas dengan berjalan kaki.

“Saat ini sudah dibangun jembatan darurat menggunakan bambu yang bisa dilewati masyarakat dengan berjalan kaki,” tambahnya.

Bupati juga mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Kulawi. Ia memastikan komitmen pemerintah daerah untuk selalu hadir memberikan solusi.

“Tentunya pemerintah daerah tetap hadir memberikan solusi kepada masyarakat, harapannya warga dalam situasi aman dan terhindar dari potensi bahaya banjir saat debit air sungai meningkat,” ujarnya.

Banjir yang terjadi pada Minggu (17/5/2026) dini hari tersebut dipicu oleh peningkatan debit air sungai di Desa Mataue dan Desa Boladangko, yang berujung pada terputusnya jembatan penghubung antar-dusun di Desa Mataue.