Bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada Kamis (12/2/2026). Insiden ini mengakibatkan satu warga dilaporkan tewas terseret arus banjir, serta sedikitnya 28 kepala keluarga atau 89 jiwa terdampak.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Muhammad Nurul Huda, menjelaskan bahwa hujan sedang hingga lebat disertai kilat dan angin kencang yang terjadi sejak pukul 12.33 hingga 15.33 Wita memicu bencana di beberapa kecamatan, yakni Woha, Soromandi, dan Lambu.

“Berdasarkan data sementara, satu warga dilaporkan hilang terseret arus banjir dan sebanyak 28 kepala keluarga atau 89 jiwa terdampak banjir di Kecamatan Lambu. Tim gabungan saat ini masih melakukan pencarian korban dan pendataan dampak lainnya,” ujar Muhammad Nurul Huda dalam siaran persnya.

Korban Jiwa dan Dampak di Kecamatan Lambu

Di Kecamatan Lambu, banjir yang melanda Desa Simpasai menyebabkan 28 kepala keluarga (89 jiwa) terdampak. Sebanyak 28 unit rumah terendam dengan ketinggian air berkisar 20-60 sentimeter. “Genangan juga menutup akses jalan sepanjang sekitar 175 meter. Hingga saat ini warga masih melakukan pembersihan lumpur setelah air berangsur surut,” papar Nurul Huda.

Bencana ini juga menimbulkan korban jiwa di Desa Hidirasa, Kecamatan Lambu. Seorang petani bernama Weli (66) dilaporkan hanyut saat menyeberangi aliran banjir di Sungai Dam Raba Ncoha. “Tim gabungan SAR, BPBD, TNI, Polri, Tagana, dan masyarakat masih melakukan pencarian korban yang akan dilanjutkan kembali pada Jumat pagi,” jelasnya.

Dampak di Kecamatan Lain dan Peringatan Dini

Selain di Lambu, banjir di Desa Punti, Kecamatan Soromandi, menggenangi ruas jalan lintas Sarita-Wadukopa sepanjang sekitar 255 meter dengan ketinggian air 10-50 sentimeter. Kondisi ini sempat menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Di Kecamatan Woha, longsor terjadi di RT 16 Dusun Kalate, Desa Samili. Meskipun tidak menimbulkan pengungsian, longsor tersebut mengganggu aktivitas warga.

Muhammad Nurul Huda menambahkan, BPBD bersama instansi terkait terus melakukan kaji cepat, pendataan dampak, serta menyiapkan bantuan tanggap darurat, logistik, dan peralatan penanganan bencana bagi warga terdampak. “Masyarakat diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu banjir, longsor, maupun angin kencang dalam beberapa waktu ke depan,” tutupnya.