Bupati Dompu Bambang Firdaus menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi penting menuju peradaban yang maju dan berkarakter. Pernyataan ini disampaikan saat membuka Festival Literasi Budaya Dompu, bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-211 Kabupaten Dompu, di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Karijawa pada Kamis sore.

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi merupakan jalan menuju peradaban yang lebih maju dan berkarakter,” ujar Bambang Firdaus.

Ia menjelaskan, literasi budaya memegang peran strategis dalam menjaga jati diri masyarakat, terutama di tengah derasnya arus globalisasi. Menurut Bambang, Kabupaten Dompu tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki warisan budaya, kearifan lokal, dan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Melalui literasi, generasi muda tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga merawat ingatan kolektif, menghidupkan kembali cerita-cerita leluhur, serta memperkuat identitas daerah,” katanya.

Bupati Dompu juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan literasi sebagai bagian tak terpisahkan dari gaya hidup sehari-hari. “Bacalah lebih banyak, tulislah lebih banyak, dan cintailah budaya kita sendiri,” tegasnya.

Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-211 Kabupaten Dompu, lanjut Bambang, harus dimanfaatkan sebagai ajang refleksi untuk memperkuat persatuan dan membangun daerah melalui inovasi serta kolaborasi berbasis budaya.

Selain itu, Bambang Firdaus mengingatkan pentingnya menjaga budaya lokal agar tidak tergerus oleh pengaruh budaya asing. “Jika budaya lokal tidak dirawat, maka lambat laun bisa hilang. Karena itu, budaya Dompu harus terus diperkenalkan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dompu, H. Rifaid, menambahkan bahwa Festival Literasi Budaya tahun ini diikuti oleh 150 peserta dari jenjang TK hingga SMA/sederajat se-Kabupaten Dompu.

Para peserta berpartisipasi dalam berbagai lomba, termasuk pidato, puisi, dan tari kreasi. “Festival ini menjadi ajang bagi siswa untuk mengekspresikan bakat sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal,” jelas Rifaid.

Menurut Rifaid, kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya merevitalisasi kearifan lokal dan menunjukkan hasil awal dari penerapan Kurikulum Muatan Lokal Daerah yang telah dicanangkan sekitar satu tahun terakhir. “Mulai terlihat hasilnya melalui partisipasi dan kreativitas peserta dalam festival ini,” pungkasnya.