Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) telah menyalurkan sebanyak 2 ton jagung kepada para peternak di wilayah tersebut. Penyaluran ini merupakan bagian dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Jagung (SPHPJ) yang bertujuan menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga jagung sebagai bahan baku pakan ternak.
Program SPHPJ tahap awal ini dilaksanakan pada Sabtu, 30 Mei 2026. Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Sulawesi Tengah, Jusri, mengungkapkan bahwa penyaluran ini merupakan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan jagung di tingkat konsumen.
Target Penyaluran dan Sumber Jagung
“Untuk target penyaluran se Sulteng sampai bulan Desember 919.800 Kilogram atau 919,8 Ton,” kata Jusri kepada media di Palu, Minggu (31/5/2026).
Jusri menambahkan, “Pada tahap penyaluran kali ini, Bulog menyalurkan sebanyak 2 ton jagung untuk memenuhi kebutuhan peternak. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan jagung di tingkat konsumen.”
Jagung yang disalurkan berasal dari hasil serapan Bulog terhadap petani lokal. Petani-petani ini tersebar di sejumlah daerah sentra produksi di Sulawesi Tengah, meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong (Parimo).
Keterlibatan petani lokal dalam program ini tidak hanya menjamin ketersediaan stok jagung, tetapi juga mendukung peningkatan kesejahteraan petani melalui penyerapan hasil panen dengan harga yang kompetitif.
Harga Jual dan Harapan Bulog
Dalam program SPHPJ ini, harga jagung di gudang Bulog ditetapkan sebesar Rp5.000 per kilogram. Sementara itu, harga jual kepada peternak maksimal Rp5.500 per kilogram.
“Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan harga di tingkat petani maupun peternak, sehingga rantai pasok komoditas jagung tetap berjalan dengan baik,” ujar Jusri.
Bulog Sulawesi Tengah berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak guna memastikan program stabilisasi pasokan dan harga jagung berjalan efektif, khususnya dalam mendukung sektor peternakan yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku pakan.
“Kami berharap harga jagung di pasar tetap terkendali, pasokan terjaga, serta petani dan peternak sama-sama memperoleh manfaat dari stabilitas komoditas pangan strategis tersebut,” tutup Jusri.
