Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Masjid Nusrat Jahan, Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu (21/3/2026). Sejumlah umat lintas agama dan kepercayaan berkumpul untuk saling bermaaf-maafan dalam acara safari Lebaran. Kegiatan ini, yang diikuti oleh tokoh agama dan masyarakat, menjadi manifestasi nyata upaya menumbuhkan serta mempererat silaturahim, kerukunan, toleransi, dan kedamaian antarumat dalam momentum perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, silaturahim saat hari raya melampaui aspek kulturalnya. Momentum ini merupakan instrumen strategis dalam memperkokoh ketahanan nasional yang berkelanjutan. Di balik hiruk pikuk rutinitas, pertemuan fisik dan interaksi langsung memiliki kedalaman energi yang tidak dapat digantikan oleh teknologi komunikasi digital mana pun.

Silaturahim menjadi ruang untuk menemukan kembali jati diri dalam ekosistem terkecil bernama keluarga. Kualitas hubungan yang terjalin bukan sekadar komoditas sosial, melainkan fondasi dasar bagi pembangunan karakter. Fenomena ini sejalan dengan agenda pemerintah yang menempatkan unit keluarga sebagai pilar utama dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas.

Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan, Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menegaskan peran krusial ini. “Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peran penting dalam mendorong terciptanya ketahanan dan resiliensi nasional,” ujar Woro Srihastuti. Ia menambahkan, jika keluarga bahagia, masyarakat sejahtera, maka negara juga akan kuat dan memiliki kohesi nasional yang semakin kokoh.

<

Delapan Fungsi Keluarga untuk Ketahanan Nasional

Momen Hari Raya Idul Fitri menjadi pijakan untuk membangun ketahanan nasional. Ini dimulai dari memperkuat hubungan antaranggota keluarga, sesama keluarga, bahkan di tingkat komunitas dan masyarakat. Ibarat merajut selembar kain, keluarga adalah benang-benang utama yang kekuatannya akan menentukan seberapa kokoh jalinan sosial dalam menghadapi berbagai terpaan.

Dalam konteks agenda pembangunan nasional, penguatan kohesi sosial melalui momen ini menjadi manifestasi nyata dari aktivasi delapan fungsi keluarga. Fungsi-fungsi tersebut esensial untuk membangun ketahanan dari unit terkecil masyarakat. Kedelapan fungsi itu meliputi:

  • Fungsi keagamaan
  • Fungsi sosial budaya
  • Fungsi cinta kasih
  • Fungsi perlindungan
  • Fungsi reproduksi
  • Fungsi sosialisasi dan pendidikan
  • Fungsi ekonomi
  • Fungsi pembinaan lingkungan

Secara fungsi sosial dalam keluarga, silaturahim menghubungkan kembali relasi antaranggota keluarga yang mungkin sudah lama tidak bertemu, termasuk juga dengan komunitas. Penjelasan ini memperlihatkan bahwa silaturahim berdampak pada peningkatan kedekatan emosional antaranggota keluarga dan jalinan sosial dengan masyarakat yang lebih luas. Langkah ini menjadi jembatan untuk mengembalikan interaksi bermakna di tengah kesibukan era digital, sekaligus memperkuat dukungan sosial di lingkungan masyarakat.

Sementara dari sisi fungsi budaya, silaturahim semakin memperkuat tradisi untuk saling berbagi, saling berkunjung, dan tentunya akan mendorong kohesi sosial yang semakin kuat di tingkat lingkungan, masyarakat, dan negara. Selain itu, silaturahim menjaga kesinambungan nilai antargenerasi dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitas yang pada akhirnya menjadi fondasi bagi ketahanan budaya.

Mengisi Kembali Tangki Emosi dan Membangun Resiliensi

Di balik besarnya peran keluarga, terdapat proses mendasar yang terjadi pada tiap individu untuk mengisi energi atau tangki emosinya. Sebelum merajut jalinan sosial yang lebih luas, setiap pribadi butuh sejenak mengambil jeda. Silaturahim bisa menjadi salah satu cara mengisi ulang energi. Momentum ini menjadi titik balik bagi setiap anggota keluarga untuk “kembali ke sarang” guna memulihkan kondisi psikis yang terkuras oleh beban keseharian.

Dosen psikologi Fakultas Psikologi, Universitas YARSI, Dr. Octaviani Indrasari Ranakusuma, menjelaskan bahwa pertemuan fisik dalam silaturahim memicu pelepasan hormon oksitosin. Hormon ini membantu seseorang fokus pada penghargaan sosial seperti pujian hingga tepukan bangga di pundak dari sesepuh. “Hal itu membangun rasa aman dan percaya,” kata Octaviani. Perasaan diterima tanpa syarat oleh keluarga besar inilah yang menjadi modal utama bagi individu untuk menemukan kembali keseimbangan.

Menurut Octaviani, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berada dalam lingkungan sosial, menjadi bagian dari kelompok dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Keluarga merupakan lingkungan sosial terdekat dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang beranjak dewasa dan harus hidup terpisah dari keluarga, karena melanjutkan pendidikan, bekerja, atau berkeluarga, ikatan emosional ini tidak pupus karena jarak melainkan menumbuhkan rasa rindu.

Seiring usia, tuntutan hidup semakin kompleks dan interaksi digital tidak lagi cukup. Ada kebutuhan untuk “kembali ke sarang” menjadi bagian dari ekosistem yang menerima apa adanya. Kehadiran fisik, kebersamaan, canda, dan tawa akan mengisi kembali kerinduan emosi dan pada akhirnya membangun resiliensi.

Resiliensi dibutuhkan sebagai kekuatan agar individu mampu segera bangkit kembali setelah menghadapi tekanan. Untuk membangun resiliensi perlu dukungan emosional yang dibentuk melalui proses yang panjang, sejak seseorang berada dalam kandungan, kelahiran, proses menyusui dan pengasuhan oleh orang tua, serta interaksi yang hangat dengan anggota keluarga. Dalam proses tersebut, seseorang mengetahui bahwa ia dicintai dan bahwa ia diterima apa adanya bahkan ketika ia berhadapan dengan situasi sulit. Ia tahu bahwa ia akan didengarkan dan didukung untuk bersama-sama mencari solusi untuk masalah yang dihadapinya. Dari situ seseorang belajar bahwa situasi buruk bersifat sementara namun dukungan keluarga serta kekuatan karakter yang ia miliki bersifat permanen. Resiliensi adalah kemampuan dan keyakinan seseorang untuk dapat melenting kembali ketika ia berada di titik terbawah.

Sementara itu, Dosen Komunikasi Keluarga pada Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr. Wisnu Widjanarko menjelaskan, “hari raya menjadi momen di mana individu tergerak secara emosional, sosial, maupun kultural untuk meneguhkan identitas sebagai sebuah keluarga.” Silaturahim Lebaran, menurut Wisnu, juga menjadi ruang dan waktu yang diciptakan bagi seluruh anggota keluarga untuk mempertautkan satu sama lain sebagai satu ikatan, baik sebagai pertalian darah maupun ikatan perkawinan.

Pembahasan di atas menyadarkan bahwa kekuatan individu berakar dari kualitas hubungan dengan ekosistem terdekatnya. Resiliensi yang dibangun melalui kelekatan emosional dan rasa aman bukan sekadar konsep psikologi, melainkan fondasi utama bagi lahirnya SDM tangguh, selaras dengan agenda pemerintah dalam penguatan karakter dan produktivitas masyarakat. Dengan adanya dukungan emosional yang kuat, setiap individu memiliki energi lebih untuk berkontribusi secara nyata. Lingkungan yang saling mendukung menjadi mesin penggerak dalam menciptakan masyarakat yang tangguh dan berdaya saing tinggi.