Bayangan kepraktisan plastik sekali pakai kini berubah menjadi horor kesehatan yang nyata. Ancaman tersebut divisualisasikan oleh Ecoton melalui instalasi seni “Bayi Mikroplastik” di Urban Market Kota Lama Surabaya, Jumat (28/2).

Pameran ini menjadi tamparan keras bagi publik di tengah temuan mengerikan mengenai sebaran mikroplastik yang telah menembus pertahanan terdalam tubuh manusia. Riset terbaru Ecoton periode 2025-2026 menemukan partikel plastik mikroskopis ini tidak hanya mencemari sungai atau menyumbat selokan, tetapi juga telah ada dalam darah perempuan, air seni, bahkan air ketuban.

Fenomena ini menandai lahirnya “era mikroplastik”, sebuah periode di mana manusia mulai menanggung beban kesehatan akibat ketergantungan pada plastik selama hampir 80 tahun.

Mikroplastik Menjajah Tubuh, Kesehatan Terancam

Alaika Rahmatullah, Koordinator Jaringan Gen Z Jawa Timur Tolak Plastik Sekali Pakai (JEJAK), menyoroti dampak gaya hidup instan. “Kita sudah menikmati gaya hidup instan selama delapan dekade. Sekarang, tubuh kita mulai membayar harganya melalui kontaminasi dalam darah dan organ dalam,” ujarnya.

Paparan mikroplastik memicu rentetan gangguan kesehatan serius, mulai dari kekacauan hormon, peradangan jaringan, hingga risiko kanker dan masalah reproduksi. Ironisnya, masyarakat Indonesia diperkirakan menelan rata-rata 15 gram mikroplastik setiap bulan, setara dengan berat sebuah kartu kredit, akibat rusaknya ekosistem.

Kondisi lapangan saat ini kian karut-marut lantaran Indonesia masih bertengger sebagai salah satu eksportir sampah plastik terbesar ke lautan global. Persoalan ini diperparah oleh perilaku 57% warga yang masih membakar sampah secara mandiri, sebuah tindakan berbahaya yang melepaskan racun dioksin serta furan ke udara hingga terhirup oleh anak-anak.

Di saat yang sama, budaya ketergantungan pada kemasan saset dan botol sekali pakai terus menciptakan timbulan sampah masif yang hingga kini gagal dikelola secara sistematis, baik oleh pemerintah maupun pihak industri.

Solusi dan Tanggung Jawab Bersama

Solusi nyata sebenarnya berada pada transformasi model bisnis. Jofany Ahmad, Koordinator Refillin Ecoton, memaparkan bahwa skema isi ulang (refill) mampu memangkas konsumsi hingga 200 kemasan saset ukuran 40 ml per orang setiap bulannya.

Jika 2,5 juta warga Surabaya beralih ke sistem guna ulang, beban fiskal pemerintah daerah dalam mengelola sampah akan berkurang drastis. Dana APBD yang selama ini habis untuk mengangkut sampah ke TPA bisa dialihkan untuk sektor pembangunan lain.

Jofany menegaskan pentingnya peran berbagai pihak. “Konsumen tidak bisa bergerak sendiri. Industri wajib bertanggung jawab meredesain kemasan mereka, dan pemerintah harus berani menghentikan keran produksi plastik sekali pakai,” tegasnya.

Senada dengan itu, Suryan Musthofa dari Surabaya Youth Forum menilai visualisasi “Bayi Mikroplastik” ini krusial untuk meruntuhkan citra plastik sebagai simbol kemudahan. Menurutnya, publik harus mulai melihat plastik sebagai ancaman eksistensial bagi generasi mendatang.

Tanpa regulasi ketat dan perubahan perilaku radikal, manusia bukan lagi sekadar pengguna plastik, melainkan telah menjadi bagian dari siklus limbah itu sendiri.