Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) kembali mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat terkait modus penipuan phishing yang semakin canggih. Modus terbaru ini memanfaatkan konten video viral, salah satunya yang populer dengan narasi “ibu tiri vs anak tiri”, untuk menjebak korban dan mencuri data pribadi mereka.
Pakar keamanan siber menyoroti bahwa pelaku kejahatan siber kini semakin lihai dalam memanfaatkan tren dan emosi publik. Video viral yang memicu rasa penasaran atau kemarahan seringkali dijadikan umpan untuk menyebarkan tautan berbahaya. Korban yang tergiur untuk melihat “rekaman lengkap” atau “fakta di balik” video tersebut tanpa sadar mengklik tautan phishing.
Modus Operandi dan Dampak Phishing
Modus operandi yang digunakan cukup sederhana namun efektif. Pelaku menyebarkan tautan melalui berbagai platform, mulai dari pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram, hingga direct message di media sosial seperti Instagram dan Facebook. Tautan tersebut biasanya mengarahkan korban ke situs palsu yang menyerupai platform media sosial atau perbankan, kemudian meminta korban untuk memasukkan kredensial login mereka.
Dr. Ir. H. Budi Santoso, M.Kom., pakar keamanan siber dari Universitas Indonesia, dalam sebuah seminar daring pada Februari 2026, menegaskan, “Masyarakat harus sangat berhati-hati dengan tautan yang tidak dikenal, terutama jika menjanjikan konten sensasional.” Ia menambahkan bahwa data yang dicuri dapat digunakan untuk berbagai kejahatan, termasuk pembobolan akun, penyalahgunaan identitas, hingga kerugian finansial.
Data BSSN menunjukkan adanya peningkatan signifikan kasus phishing di awal tahun 2026, khususnya yang menargetkan pengguna media sosial. Peningkatan ini sejalan dengan semakin maraknya penyebaran konten viral yang belum terverifikasi kebenarannya.
Ciri-ciri Tautan Berbahaya dan Langkah Pencegahan
Masyarakat diimbau untuk mengenali ciri-ciri tautan phishing. Beberapa indikator umum meliputi URL yang mencurigakan (bukan domain resmi), permintaan login yang tidak wajar di luar konteks, atau tampilan situs yang berbeda dari aslinya. Pelaku seringkali menggunakan teknik social engineering untuk memanipulasi emosi korban agar segera mengklik tautan tanpa berpikir panjang.
Untuk mencegah menjadi korban, BSSN menyarankan beberapa langkah penting:
- Selalu verifikasi sumber informasi sebelum mengklik tautan, terutama jika berasal dari pengirim yang tidak dikenal atau menjanjikan konten yang terlalu sensasional.
- Jangan mudah tergiur dengan judul atau deskripsi yang provokatif.
- Gunakan autentikasi dua faktor (2FA) untuk semua akun online guna menambah lapisan keamanan.
- Periksa kembali URL sebelum memasukkan data pribadi atau kredensial login.
- Laporkan tautan atau pesan mencurigakan kepada pihak berwenang atau penyedia layanan terkait.
Jika terlanjur mengklik tautan dan memasukkan data, segera ganti semua kata sandi yang mungkin terekspos dan hubungi penyedia layanan untuk tindakan lebih lanjut. Kampanye kesadaran publik tentang bahaya phishing terus digalakkan oleh berbagai lembaga pemerintah dan swasta sebagai upaya kolektif melindungi ruang siber Indonesia.
