Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjadi pemicu utama inflasi bulanan di wilayah tersebut pada Maret 2026. Lonjakan harga ini terjadi selama periode Ramadhan dan Lebaran.
Penyebab Utama Inflasi
Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,92 persen. “Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau terjadi inflasi 1,92 persen. Secara andil atau share terhadap inflasi bulanan, kelompok itu sudah mengambil bagian 0,72 persen,” kata Wahyudin di Mataram, Rabu.
Ia merinci, lonjakan harga cabai dan tomat yang dipengaruhi gangguan produksi akibat musim hujan serta peningkatan permintaan memicu inflasi bulanan sebesar 0,81 persen di NTB. Harga cabai rawit sempat menyentuh angka Rp150 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram. Namun, harga tersebut kemudian mulai turun ke kisaran Rp60 ribu per kilogram setelah Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan intervensi pasokan.
“TPID bergerak cepat melihat tren kenaikan harga cabai yang tinggi langsung mendatangkan cabai dari Enrekang di Sulawesi Selatan, sehingga harga cabai langsung menurun,” papar Wahyudin.
BPS NTB mencatat lima komoditas penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah cabai rawit dengan andil 0,14 persen, kol putih atau kubis 0,12 persen, daging ayam ras 0,09 persen, tomat 0,05 persen, dan terong 0,04 persen.
Perbandingan Inflasi
Secara bulanan, inflasi pada Maret 2026 sebesar 0,81 persen lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,84 persen. Laju inflasi bulanan NTB tertahan oleh kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,13 persen dengan andil minus 0,01 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang memberikan subsidi atau potongan harga terhadap angkutan udara dan laut.
Sementara itu, laju inflasi secara tahun kalender tercatat mencapai 1,93 persen dan secara tahunan sebesar 4,09 persen. Angka inflasi NTB ini lebih tinggi dibandingkan laju inflasi nasional yang masing-masing sebesar 0,94 persen untuk tahun kalender dan 3,48 persen secara tahunan.
“Inflasi sudah mulai mengalami penurunan, mudah-mudahan nanti April 2026 terus mengalami penurunan, sehingga inflasi secara tahunan maupun tahun kalender bisa turun atau dalam rentang target inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah,” pungkas Wahyudin.
Upaya Pengendalian
Analis Kebijakan Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTB, Nana Oktutiana, menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya mengendalikan laju inflasi agar tidak berdampak negatif terhadap perekonomian daerah. Salah satu kebijakan yang disiapkan dalam upaya pengendalian inflasi adalah penggalakan penanaman cabai di setiap sekolah. Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga cabai di masa mendatang.
